Mas Al Rantau

Mas Al Rantau

Share

Cerita Kehidupan✅
Saling Support✅
Berbagi Itu Indah✅
Pro novel KBMapp✅ Wa👉0881036236365
Jual halaman siapkan konten👈

18/09/2026

Bab_6
_____
“Ayah, jangan khawatir. Aku baik-baik saja di sini.”

Kania duduk di dekat jendela kamarnya sambil memegang ponsel. Dari lantai atas, samar-samar terdengar suara para pelayan yang sedang sibuk mempersiapkan pesta di bawah.

Namun, suara ayahnya di seberang sana terdengar jauh lebih tegang.

“Mereka benar-benar kurang ajar! Bisa-bisanya mereka melakukan semua ini kepadamu. Dan kau... kau juga tidak mengatakan apa-apa kepada Ayah.”

Kania tersenyum kecil.

“Bahkan kau sampai membungkam anak buah Ayah, Kania.”

“Ayah, jangan cemas.”

Kania menyandarkan punggungnya dengan santai.

“Aku memang sengaja melakukan itu.”

“Kenapa?”

“Aku ingin mereka tahu kalau aku anak Ayah.”

Kania terkekeh pelan.

“Aku tidak takut pada siapa pun di rumah ini. Jadi, Ayah tidak perlu buru-buru p**ang hanya karena masalah kecil seperti ini.”

“Masalah kecil?”

Nada suara ayahnya meninggi.

“Suamimu membawa wanita lain ke rumah dan ingin menikahinya, lalu kau bilang itu masalah kecil?”

Kania tersenyum.

“Menurutku memang kecil.”

Ia memainkan ujung rambutnya.

“Sekarang Ayah dan Ibu nikmati saja liburan kalian. Tidak usah memikirkan aku. Fokus saja memberikan aku adik baru.”

Hening beberapa detik.

“Kania!”

Kania langsung tertawa.

“Ayah masih bisa marah begitu.”

“Anak ini... masih saja bisa bercanda di tengah masalah seperti ini.”

“Ayah, Rendy bukan orang yang cukup berharga untuk membuatku terus bersedih.”

Suaranya kali ini terdengar lebih tenang.

“Jadi, Ayah dan Ibu jangan cemas. Aku akan bermain sebentar dengan mereka.”

Kania memandang ke arah pintu kamarnya.

“Aku ingin membuat mereka sadar... siapa mereka dan siapa aku.”

Di seberang sana, ayah Kania terdiam cukup lama.

“Baiklah.”

Suaranya akhirnya melunak.

“Ayah minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Kalau bukan karena Ayah, mungkin kau tidak akan pernah menikah dengan pria brengsek itu.”

Kania terdiam sejenak, lalu tersenyum.

“Ayah tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Aku juga yang menyetujuinya.”

“Kalau begitu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

“Aku tahu.”

Kania menarik napas.

“Sudah, Ayah. Aku harus turun. Pestanya sebentar lagi dimulai.”

“Hati-hati, Kania.”

“Tenang saja. Aku bukan anak kecil.”

Sambungan telepon berakhir.

Kania menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

“Permainan baru dimulai.”

___

Di lantai bawah, pesta sudah berlangsung meriah.

Para tamu mulai berdatangan satu per satu. Ruang keluarga yang biasanya terasa tenang kini dipenuhi suara percakapan, tawa, dan denting gelas.

Rendy terlihat sibuk menyambut para tamu. Sesekali ia melirik ke arah tangga, seolah sedang menunggu seseorang.

Sementara itu, ibu Rendy tidak kalah sibuk.

Ia dengan bangga memperkenalkan Aini kepada para tamu.

“Ini Aini. Dia asisten Rendy yang banyak membantu selama proyek di luar kota.”

“Aini sangat berjasa. Kalau bukan karena dia, mungkin Rendy tidak akan bisa menyelesaikan proyek sebesar itu.”

Aini tersenyum malu-malu.

“Ah, Ibu terlalu memuji saya.”

“Memang kenyataannya begitu.”

Beberapa tamu mulai memuji kecantikan Aini.

“Cantik sekali.”

“Pantas saja Tuan Rendy mempercayainya menjadi asisten.”

“Wajahnya juga terlihat sangat lembut.”

Aini semakin tersenyum.

Diam-diam, ia menikmati semua perhatian itu.

Inilah yang selama ini ia inginkan.

Pengakuan.

Kedudukan.

Dan tentu saja, kehidupan mewah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.

Namun, tepat ketika suasana sedang ramai, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara hak sepatu yang menyentuh anak tangga membuat beberapa tamu spontan menoleh.

Percakapan yang sebelumnya ramai perlahan mereda.

Kania muncul dari lantai atas.

Ia mengenakan gaun sederhana tetapi terlihat sangat elegan. Rambutnya ditata rapi, wajahnya dipoles tipis, dan senyum tenang menghiasi bibirnya.

Tidak berlebihan.

Namun justru karena itulah semua mata tertuju kepadanya.

Beberapa tamu bahkan saling berbisik.

“Wah... Nona Kania terlihat semakin cantik.”

“Benar-benar seperti putri keluarga Tanodja.”

“Pantas saja Tuan Tanodja begitu menyayanginya.”

Kania tersenyum mendengar pujian tersebut.

“Jangan memujiku terlalu tinggi.”

Ia terus menuruni tangga dengan langkah tenang.

“Karena bintang tamu kita malam ini bukan aku.”

Kania berhenti di anak tangga terakhir.

Tatapannya beralih kepada Rendy.

Lalu kepada Aini.

Kemudian kepada ibu mertuanya.

“Bintang tamu kita malam ini adalah suamiku...”

Ia tersenyum.

“Dan juga gundiknya.”

Ruangan langsung riuh.

“Apa?”

“Gundik?”

“Bukankah tadi katanya hanya asisten?”

Wajah Aini seketika pucat.

Rendy langsung menegang.

Di sisi lain, seorang pria yang sejak tadi berdiri agak jauh dari kerumunan hanya tersenyum tipis.

Pria itu adalah orang yang sengaja diundang Rendy malam ini.

Pemilik perusahaan tempat Rendy bekerja.

Rendy ingin menunjukkan keberhasilannya kepada sang pemilik perusahaan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pria tersebut datang bukan karena undangannya, melainkan karena Kania.

Kania melangkah turun sepenuhnya.

“Apakah Ibu belum memperkenalkan Aini secara lengkap?”

Ia pura-pura berpikir.

“Oh, iya. Biar aku yang memperjelas.”

“Kania!”

Rendy langsung memotong.

“Cukup.”

Kania menoleh.

“Kenapa, Mas?”

Rendy menatapnya dengan rahang mengeras.

“Jangan mempermalukanku di depan tamu.”

Kania justru tertawa kecil.

“Mempermalukan?”

Ia menggeleng.

“Bukankah Mas sendiri yang mengadakan pesta ini untuk memperkenalkan Aini?”

Rendy terdiam.

“Jadi, aku hanya membantu menjelaskan.”

Kania menatap para tamu.

“Dia memang asisten Mas Rendy.”

Kemudian tatapannya beralih kepada Aini.

“Asisten yang selama enam bulan terakhir ternyata juga menjadi teman ranjang suamiku.”

Ruangan seketika membisu.

Wajah Aini memerah karena malu.

“Cukup, Kania!”

Rendy membentak.

Namun Kania tidak berhenti.

“Asisten yang—”

“Cukup!”

Kali ini ibu mertuanya ikut berdiri.

“Kau jangan keterlaluan!”

Kania menoleh kepadanya.

“Oh, iya.”

Ia tersenyum seolah baru mengingat sesuatu.

“Aku hampir melupakan Ibu.”

Ibu Rendy langsung mengerutkan kening.

“Ada apa lagi?”

Kania mengangkat bahu.

“Bukankah kemarin Ibu sendiri yang mengatakan bahwa pria boleh menikah lebih dari satu?”

Wajah ibu Rendy mulai berubah.

“Jadi, karena Ibu begitu welas asih dan sangat mendukung keputusan Mas Rendy...”

Kania menoleh ke arah pintu utama.

“...aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk Ibu.”

Semua orang mengikuti arah pandangan Kania.

Seorang wanita akhirnya masuk dari pintu utama.

Usianya memang tidak muda lagi, tetapi penampilannya masih terlihat terawat, cantik dan masih seksi. Ia berjalan dengan tenang, ditemani seorang pelayan yang mengantarnya masuk.

Begitu melihat wanita tersebut, wajah ayah Rendy yang sejak tadi berada di dekat beberapa tamu langsung berubah.

Ia membeku.

Sementara ibu Rendy seperti kehilangan napas.

Matanya membulat.

Tangannya refleks memegang dada.

“Kania...”

Kania tersenyum manis.

“Kemarilah, Tante.”

Wanita itu berjalan mendekat.

Kania lalu menatap ibu mertuanya.

“Ibu tidak akan marah, kan?”

Tidak ada jawaban.

Kania melanjutkan dengan nada santai.

“Bukankah Ibu sendiri yang bilang bahwa laki-laki boleh menikah lebih dari satu?”

Suasana berubah menjadi tegang.

“Kalau begitu, Ayah juga seharusnya mendapatkan kesempatan yang sama.”

“Apa maksudmu, Kania?!”

Suara ibu Rendy bergetar.

Kania hanya tersenyum.

“Maksudku sederhana.”

Ia menunjuk wanita yang baru datang itu.

“Ini wanitanya Ayah. Bisa di bilang istri keduanya Ayah.”

Beberapa tamu langsung saling berpandangan.

Ada yang menutup mulut karena terkejut.

Ada p**a yang mulai berbisik.

Ayah Rendy menatap Kania dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

“Dari mana kau tahu tentang dia?”

Kania tertawa kecil.

“Itu tidak penting, Ayah.”

Kemudian ia kembali menatap ibu mertuanya.

“Yang penting, Ibu tidak boleh marah.”

Kania sengaja menekankan kata-katanya.

“Bukankah Ibu mengajarkan kepada kami semua bahwa pria boleh memiliki lebih dari satu wanita?”

Ibu Rendy tampak kesulitan bernapas.

“Tidak... ini tidak mungkin.”

Kania masih tersenyum.

“Kenapa tidak mungkin?”

Ia melangkah mendekati wanita tersebut.

“Bukankah aturan itu juga berlaku untuk Ayah?”

Ruangan benar-benar sunyi.

Dan di tengah kesunyian itu, terdengar suara tawa kecil dari arah belakang.

Pemilik perusahaan Rendy akhirnya melangkah maju.

Tatapannya tertuju kepada Kania.

Kemudian ia melirik Rendy yang kini berdiri kaku.

“Sepertinya pesta yang kau adakan jauh lebih menarik dari yang kau ceritakan kepadaku, Rendy.”

Wajah Rendy langsung pucat.

____
Judul: Janda Tanpa Masa.
Karya: Arion aditama
Hanya di KBM app

18/09/2026

Bab. 3

Hari ini adalah jadwal undangan rapat wali murid. Fajar bangun lebih awal dari biasanya. Saat alarm di ponselnya berbunyi pukul lima, pria itu langsung membuka mata.

Tidak menekan tombol tunda. Tidak ada ke lu han mengantuk. Tidak ada wajah ku sut seperti hari-hari kerja lainnya.

Sebaliknya, ia justru terlihat segar. Bersemangat. Bahkan sudah selesai mandi.

Nadira yang masih setengah tertidur membuka sebelah mata. "Mas, jam berapa sekarang? Kok tumben kamu sudah bangun?"

"Hm? Aku terbangun karena alarmku terus berbunyi."

Nadira keheranan. "Kamu mau berangkat kantor atau naik haji? Biasanya juga alarm bunyi, kamu mati in lalu tidur lagi sebentar. "

Fajar ter ta wa kecil. "Memangnya nggak boleh rajin?"

"Boleh."

Nadira kembali memejamkan mata.

Namun beberapa menit kemudian ia kembali membuka mata karena mendengar suara lemari dibuka dan ditutup berkali-kali. "Ngapain lagi, Mas?"

"Milih kemeja."

Nadira menghela napas panjang. "Lagi?"

"Iya."

Nadira terpaksa bangun, mengambil ponselnya dan melihat tanggal lalu menggeleng pelan. "Mas, itu cuma rapat wali murid, undangannya jam delapan. Ini baru jam lima."

Fajar berhenti sesaat. Menarik napas panjang. Kemudian ter ta wa. Andai Nadira pe ka, ia pasti tahu itu adalah ta wa yang dibuat-buat.

"Aku mau nganterin berkas dulu. Hari ini ada rapat pagi di kantor. Setelah itu balik lagi ke sekolah Naifa."

Setelah berkata demikian, pria itu tetap sibuk memilih pakaian. Sampai akhirnya ia mengenakan kemeja baru berwarna abu-abu gelap yang baru dibelinya minggu lalu. Kemeja terbaiknya.

Nadira menarik napas panjang. Ia menggeleng sambil tersenyum.

Suaminya memang sedang a neh akhir-akhir ini. Namun ia tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang bu ruk. Justru ia merasa senang.

Melihat Fajar kembali memperhatikan diri sendiri membuatnya ikut bahagia.

"Kalau kamu sibuk, harusnya jangan memak sakan diri, Mas. Biar aku saja yang berangkat."

"Aku juga ingin terlibat langsung, Sayang. Selama enam tahun kamu terus yang berangkat. Sekarang gantian aku."

"Baiklah." Nadira bangkit dari tempat tidur. Merapikan kerah kemeja suaminya lalu keluar lebih dulu. "Aku buatkan sarapan sebentar," ujarnya.

"Jangan lupa kopiku, Sayang."

_______

Saat sarapan, Naifa tampak sibuk membahas rapat tersebut. "Ayah nanti ketemu Bu Rani."

"Bu Rani siapa?" tanya Fajar.

"Wali kelas aku."

"Oh. Terus ketemu siapa lagi?" tanya Fajar. Sebenarnya Fajar hanya menanggapi celotehan putrinya. Namun jawaban Naifa mampu membuatnya membeku.

"Bu Wulan," jawab Naifa.

Sendok di tangan Fajar berhenti sesaat.

Hanya sepersekian detik. Sangat singkat.

Namun hal itu sempat tertangkap oleh mata Nadira. Membuat wanita itu mengerutkan dahinya.

"Bu Wulan siapa?" tanya Fajar santai.

"Mamanya Alfi, temennya Nai, Ayah. Mamanya Alfi cantik banget loh."

"Oh. Cantikan mana sama Mama?"

"Cantikan Mama d**g, Ayah. Mama cantik kayak bidadari. Hehehehe."

"Pasti, mamanya siapa dulu." Fajar mengusap pucuk kepala putrinya.

Naifa melanjutkan makannya. Tidak menyadari perubahan kecil di wajah ayahnya. Begitu juga dengan Nadira yang menganggap itu celotehan biasa sang putri.

Sementara Fajar segera menunduk. Menyembunyikan sesuatu yang tiba-tiba muncul di matanya.

Nadira sendiri tidak terlalu memikirkannya. Nama Wulan bukan nama yang asing. Di sekolah putrinya ada banyak wali murid yang belum pernah ia kenal secara pribadi.

Mungkin Fajar hanya penasaran.

Tidak lebih.

Menjelang pukul tujuh pagi. Fajar sudah siap berangkat. Nadira dan Naifa mengantar sampai ke teras.

"Mas."

"Hm?"

"Kamu jadi ke kantor dulu? Emangnya nggak repot?" tanya Nadira.

"Nggak apa-apa. Kamu temenin Naifa di rumah aja. Nanti aku ceritakan hasil rapatnya sama kamu."

"Yakin boleh ijin sama pihak kantor?" Nadira memastikan sekali lagi. Pasalnya rapat kali ini lumayan penting mengingat akan membahas pesta kelulusan sebentar lagi. Pasti akan dibentuk panitia, menghitung biayanya dan lain-lain.

Fajar tertawa kecil. Kali ini tawanya terdengar gugup. "Nggak repot. Kamu tenang aja. Aku sedikit nervous mengingat ini pertama kalinya ikut rapat wali murid," jawabnya sedikit terbata.

"Tenanglah, rapat wali murid tidak semenegangkan rapat di kantormu, Mas. Cukup dengarkan saja," ucap Nadira pelan. Memberi pesan pasa suaminya.

"Iya juga, ya. Ya udah, kalau gitu aku berangkat dulu, ya."

Sebelum berangkat, Fajar menci um kening Nadira. Kebiasaan yang selalu ia lakukan. "Tunggu di rumah, ya."

"Iya."

Lalu Fajar menci um kepala putrinya.

"Hati-hati di jalan, Yah."

"Siap, Tuan Putri."

Pria itu tersenyum hangat. Begitu hangat hingga Nadira tidak pernah menyangka bahwa beberapa jam lagi dunianya akan berubah.

Pintu rumah tertutup. Mobil Fajar mening galkan halaman. Nadira mengajak Naifa kembali masuk ke dalam rumah.

Hari itu terasa biasa saja. Tidak ada firasat bu ruk. Tidak ada tanda-tanda bencana. Tidak ada apa-apa. Sepasang ibu dan anak itu bahagia.

______

Sementara itu di dalam mobil jan tung Fajar berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya menggeng gam se tir dengan erat.

Sudah hampir lima belas tahun. Sebuah nama mampu menggetarkan hatinya, mengukir rindu yang tak bisa dijelaskan lewat kata. Lima belas tahun sejak semuanya berakhir, sejak mereka memilih jalan masing-masing. Namun anehnya perasaannya tidak pernah benar-benar hilang.

Ponselnya bergetar. Fajar segera mengambilnya. Sebuah pesan masuk.

Dari kontak yang hanya disimpan dengan satu huruf. Pesan itu singkat.

Aku sudah sampai.

Fajar menatap layar beberapa detik lalu tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Nadira ... ia merasakan de bar yang berbeda. De bar yang seharusnya tidak lagi ada.

______

Nadira sibuk membersihkan kamar Naifa. Ia mengganti seprai. Merapikan meja belajar. Kemudian membereskan tas sekolah putrinya. Saat membuka salah satu buku, sebuah kertas kecil terjatuh.

Nadira memungutnya. Ternyata daftar wali murid yang bertugas membantu acara perpisahan sekolah.

Ia membaca sekilas lalu berhenti pada sebuah nama. Wulan Andini.

Entah kenapa nama itu terasa familiar.

Namun Nadira tidak bisa mengingat dari mana. Ia mencoba berpikir lalu menyerah.

Mungkin hanya pernah mendengar dari Naifa. Tidak lebih. Kertas itu kemudian ia simpan kembali.

Tanpa tahu bahwa nama tersebut akan segera menjadi mimpi buruk dalam hidupnya.

Hari itu ia menghabiskan waktu dengan Naifa. Mereka memasak, mencuci dan menjemur pakaian bersama-sama.

Pukul sembilan Nadira menerima telepon dari salah satu ibu wali murid. Namanya Bu Sifa. Mereka cukup dekat karena sering bertemu saat menjemput anak.

"Halo, Bu Nadira."

"Iya, Bu Sifa, ada apa ya?"

"Maaf ganggu."

"Nggak apa-apa. Ini udah selesai beberes rumah kok."

"Bu Nadira masih di rumah? Nggak berangkat rapat?"

Nadira tertawa kecil.

"Ayahnya Nai yang datang. Entah ada angin apa, tiba-tiba ayahnya Nai ingin menghadiri undangan rapat kali ini."

Terdengar hening beberapa detik.

"Pak Fajar yang datang?"

"Iya."

"Lho..."

Nada suaranya berubah. "Memangnya rapat jadi?"

Nadira mengernyit. "Maksudnya?"

"Rapatnya dibatalkan, Bu. Makanya saya menghubungi Ibu, takutnya Ibu belum baca."

Dunia seperti berhenti berputar. Nadira membeku. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mendingin. Ia mengecek grup wali murid sekolah, tapi pemberitahuan itu tidak ada.

"Apa?"

"Semalam ada pemberitahuan di grup. Hanya Ibu yang tidak membalas pesan di grup."

Nadira merasa jantungnya berdebar.

"Kok bisa dibatalkan?"

"Katanya kepala sekolah mendadak ada kegiatan dari dinas."

"Oh, begitu, baiklah, terima kasih informasinya, Bu."

"Sama-sama. Kalau begitu sebaiknya Bu Nadira hubungi suami Ibu dulu. Kasihan kalau kelamaan nunggu di sekolah. Mana hari ini 'kan anak-anak libur."

"Baik, Bu, kalau gitu saya akhiri panggilannya."

"Iya, Bu."

Nadira memutuskan panggilannya. Hatinya bertanya-tanya, kok Fajar tidak menghubunginya sama sekali? Ke mana Fajar pergi?

Nadira masih duduk mematung di sofa.

Mungkin ada penjelasan. Mungkin Fajar belum tahu. Mungkin masih di kantor.

Mungkin ada alasan lain.

Ya.

Pasti ada alasan.

Fajar bukan tipe laki-laki yang s**a berbohong. Bukan. Selama ini tidak pernah. Namun semakin ia mencoba berpikir positif, semakin kuat rasa tidak nyaman yang muncul di dadanya.

Tangannya ge me tar ketika mengambil ponsel. Ia menghubungi Fajar. Tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Tetap tidak diangkat. Pesan yang dikirim hanya dibaca. Tidak dibalas.

Perasaan aneh itu semakin membesar. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang membuat napasnya mulai sesak.

Setengah jam kemudian, Fajar akhirnya membalas.

Maaf, Ma, tadi sedang rapat di sekolah.

Nadira menatap pesan itu lama. Sangat lama.

Rapat? Rapat yang mana?

Bukankah rapat wali murid sudah dibatalkan?

Judul : Di Balik Undangan Rapat Wali Murid
Penulis : QoiAhmad
Tersedia di KBM app ya teman-teman

18/09/2026

"Dia g4y, Na! Gak mau gue kerja di sana! Gue masih sayang sama 'aset' belakang gue!"

Teriakan Erino memunculkan ide brillian di kepalaku. Aku dan Erino kan kembar. Tidak aan ada yang tau kalau aku menyamar jadi dirinya, kan?

___

4. Angkat Galon

Tanganku yang bertengger di kancing kerah kemeja mendadak terasa kebas. Darahku seolah berhenti mengalir.

Buka kemeja. Dua kata itu terus berdengung di kepalaku seperti alarm kebakaran. Kalau aku membuka kemeja ini, lilitan stagen yang membungkus dadaku akanbterekspos. Habislah sudah. Jangankan lima puluh juta, aku pasti akan langsung ditendang ke luar gedung oleh sekuriti, atau lebih parahnya, dijebloskan ke penjara karena memals**an identitas!

"Tunggu apa lagi, Erino? Tanganmu tremor?" tanya Sabrang. Suaranya terdengar meremehkan. Pria itu menyandarkan punggung ke kursi mewahnya, bersedekap dada sambil menatapku tajam.

Di sudut ruangan, Bian mencibir. "Tuh kan, Bos. Palingan juga badannya isinya tulang rusuk semua kayak ikan asin. Udah, suruh p**ang aja."

Otakku berputar cepat. Roda gigi di kepalaku seperti mengeluarkan asap saking kerasnya aku mencari alasan. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungku yang berpalu gila.

Aku melepas jas kedodoranku dan melemparnya ke kursi. Lalu, aku menggebrak meja kerja Sabrang dengan kedua tangan.

BRAK!

Bian terlonjak kaget sampai kacamatanya miring. "Heh! Kurang ajar kamu berani gebrak meja Bos Sabrang!"

Sabrang tidak berkedip. Ia hanya menatap tanganku yang bertumpu di mejanya, lalu perlahan mengangkat pandangannya ke wajahku. Tidak ada kilat marah, hanya ada secercah rasa penasaran di mata kelamnya.

"Maaf, Pak Sabrang," ucapku lantang, menatap lurus ke matanya tanpa berkedip. "Tapi menurut saya, menilai kekuatan fisik seseorang dari otot perut atau dada itu sangat tidak akurat! Otot bisa dibentuk di gym, bisa disuntik steroid. Tapi tenaga kuli dan ketahanan fisik sejati tidak bisa dilihat cuma dari buka baju!"

Sabrang mengangkat satu alisnya. "Oh ya? Jadi kamu mau mengajari saya cara menyeleksi karyawan, Erino?"

"Bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin menawarkan pembuktian yang lebih masuk akal," kilahku cepat.

Mataku menyapu seluruh ruangan raksasa ini, mencari sesuatu yang bisa kujadikan alat. Bingo! Di sudut ruangan dekat rak buku, terdapat sebuah dispenser air minum dengan galon penuh yang baru saja diantar office boy, serta setumpuk kardus berisi dokumen arsip yang terlihat sangat padat dan berat.

Aku menunjuk ke arah sana. "Bapak mau bukti saya kuat kerja 24 jam? Saya akan angkat galon penuh itu, dan memindahkan kardus dokumen arsip itu sekaligus dalam satu waktu. Kalau saya kuat menahannya selama satu menit, Bapak harus menerima saya tanpa perlu saya tela_njang dada di sini. Bagaimana?"

Bian terkekeh, menatap remeh aku. "Halu kamu, ya? Itu galon 19 liter, beratnya nyaris 20 kilo! Ditambah kardus dokumen itu isinya kertas hardcover semua, beratnya bisa 15 kilo sendiri. Tangan kurusmu itu bakal patah, Mas!"

Aku mengabaikan Bian dan tetap menatap Sabrang. "Berani terima tawaran saya, Pak?" tantangku.

Sabrang terdiam sejenak. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke bibir bawahnya, menilaiku dari atas sampai bawah.

"Menarik," gumam Sabrang akhirnya. Seringai tipis, sangat tipis, muncul di sudut bibirnya. "Silakan. Waktumu satu menit dari sekarang."

Tanpa membuang waktu, aku langsung berjalan menuju sudut ruangan. Kemeja putih yang kukenakan sedikit ketat di bagian dada karena lilitan stagen, membuatku harus pandai-pandai mengatur napas. Saat bekerja part-time di gudang logistik dulu, mengangkat beban seperti ini adalah makanan sehari-hariku. Tapi waktu itu dadaku tidak dililit kain sekencang ini!

Aku berjongkok di depan dispenser. Mengambil napas dalam, aku mencengkeram leher galon dengan lengan kananku. Hap! Dalam satu sentakan, aku mengangkat galon penuh itu dan menjepitnya kuat-kuat di pinggang samping kananku. Berat gila!

Selanjutnya, kardus dokumen. Aku sedikit membungkuk, menyelipkan lengan kiriku ke bawah kardus tebal itu, lalu mengangkatnya dengan sisa tenaga yang ada.

Nghhhh!

Urat di leherku rasanya mau putus. Stagen di dadaku menekan paru-paru dengan kejam, membuatku nyaris tidak bisa menarik napas panjang. Aku berdiri tegap di tengah ruangan, memegang galon 19 liter di kanan dan kardus 15 kilogram di kiri.

"S-satu menit, Pak," ucapku dengan suara bergetar, mati-matian menahan agar wajahku tidak terlihat memerah seperti kepiting rebus.

Bian melongo. Mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O. "Gila... kok dia kuat, Bos?" bisiknya tak percaya.

Sabrang melirik arloji Rolex di pergelangan tangannya. Pria itu berdiri, lalu berjalan perlahan memutari tubuhku. Matanya menyapu postur tubuhku, mengamati bagaimana otot lenganku menegang menahan beban. Setiap kali ia melintas di belakangku, bulu kudukku meremang.

Dua puluh detik. Tiga puluh detik.

Paru-paruku mulai menjerit butuh oksigen. Kakiku sedikit bergetar, tapi aku menggigit bibir bagian dalam kuat-kuat. Demi lima puluh juta, Erina! Demi rumah Ibu! Tahan!

"Napasmu terdengar berat, Erino," bisik Sabrang tiba-tiba. Ia berhenti tepat di samping kiriku. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan hawa tubuhnya. "Apa beban hidupmu seberat itu?"

"S-saya... sekalian melatih... pernapasan diafragma, Pak," ngelesku dengan napas terputus-putus.

Sabrang terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar rendah dan... entahlah, anehnya terdengar seksi. Sadar, Erina!

"Waktu habis," ucap Sabrang akhirnya.

Aku langsung membanting kardus dokumen ke lantai (Bruk!) dan meletakkan galon dengan kasar. Napasku memburu, dadaku naik turun dengan cepat. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisku, membuat bagian belakang kemejaku sedikit basah.

Aku buru-buru mengatur napas agar dadaku tidak terlalu menonjol akibat tarikan udara yang kasar.

"Gimana, Pak?" tanyaku menantang, mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan. "Saya masih perlu buka baju?"

Sabrang menatapku lekat. Ada kilat kepuasan di matanya. Pria itu kembali berjalan ke mejanya dan duduk dengan tenang.

"Tidak perlu," jawab Sabrang tegas. "Kamu lulus uji fisik."

Aku menghela napas lega yang luar biasa panjang. Dalam hati, aku sudah sujud syukur sambil menari-nari. Yes! Berhasil! Lima puluh juta segera di tangan!

Bian memijat pelipisnya. "Bos, Bos beneran mau nerima bocah ini? Kayaknya dia agak-agak preman, Bos."

"Siapkan kontrak kerjanya, Bian. Gajinya lima puluh juta, belum termasuk bonus kalau dia kerja lembur," perintah Sabrang mutlak.

Mendengar kata 'bonus', mataku langsung berbinar-binar. "Terima kasih banyak, Pak Sabrang! Saya janji akan selalu sedia kapan pun Bapak butuh! Bapak panggil, saya langsung wusss datang!"

"Bagus kalau kamu paham dedikasi seorang asisten pribadi." Sabrang mengangguk pelan. Pria itu lalu menumpukan dagunya di atas kedua tangan yang bertaut di meja. Matanya menatapku dengan sorot yang mendadak berubah gelap dan penuh perhitungan.

"Karena kamu harus siap sedia 24 jam untuk saya, jadwal kerjamu adalah jadwal hidup saya," lanjut Sabrang dengan nada pelan yang entah mengapa membuat perasaanku mendadak tidak enak. "Saya tidak mau ada alasan terjebak macet, ban bocor, atau rumahmu kebanjiran saat saya butuh kamu di tengah malam."

Aku mengangguk cepat. "Siap, Pak! Kosan saya bisa diakses ojek online 24 jam!"

"Tidak." Sabrang memotong cepat. "Mulai besok pagi, kamu tidak lagi tinggal di kosanmu."

Aku mengernyit bingung. "M-maksudnya, Pak?"

Sabrang menatap lurus tepat ke bola mataku. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu, menjatuhkan sebuah bom atom tepat di atas kepalaku.

"Mulai besok, kamu pindah dan tinggal di penthouse pribadiku, Erino."

Jantungku berhenti berdetak.

Tinggal... satu atap... berdua dengan Bos yang rumornya menyukai sesama jenis ini?!

Mampvs aku!

***

Selengkapnya bisa dibaca di aplikasi KBMApp
Judul : Menyamar Jadi Pria
Penulis : Umma Khoir

17/09/2026

“Lo nyari istri yang baik, sholehah, dan gak neko-neko kan. Noh istri gue. Masih perawan. Gak pernah gue sentuh sedikit pun. Ambil aja! Gue mau ceraikan, nanti lo pungut yah.”

Punya istri baik, gak neko-neko tapi gendut kayak karung beras. Jujur aja aku tak tahan, bukankah agama saja menyarankan untuk mencari istri yang indah di pandang. Kalau gemuk kayak istriku begini mending ku ceraikan saja bukan?

BAB 1

“Gue males p**ang.”

“Kenapa?”

“Lo pikir aja kenapa, usia 28 belum menikah.”

“Haha! Gue cariin istri mau? Mau yang gimana?”

“Mau yang baik, sholeh, gak neko-neko, ada gak yah. Bosen gue di kejar-kejar yang cantik mempesona.”

“Lo nyari istri yang baik, sholehah, dan gak neko-neko kan. Noh istri gue. Masih perawan. Gak pernah gue sentuh sedikit pun. Ambil aja, gue ceraikan nanti lo pungut yah.”

Deg!

Langkah kakiku langsung berhenti. Perlahan aku mundur dengan tubuh yang sedikit bergetar. Padahal tinggal beberapa langkah lagi aku akan mendekat pada Mas Maleq.

“Bisa-bisanya istri sendiri Lo tawari.”

“Lihat aja bentukan badannya, kayak karung beras begitu. Gue kalau gak terpaksa dijodohin sama orang tua males banget nikahin dia.”

“Jadi selama ini belum pernah Lo jajaki. Sayang banget punya istri di anggurin.”

“Gak selera gue. Nyentuh seujung kulitnya aja gua gak sudi.”

“Dzolim Lo sama istri sendiri, lepas aja kalau begitu.”

“Gak usah Lo suruh juga bakal gue lepas. Pulang nanti sampai rumah gue langsung bawa ke pengadilan ko tenang aja.”

“Harusnya lo gak usah nikahin dia kalau gak s**a.”

“Dari awal gue udah nolak. Mati-matian gue nolak, mentang-mentang keluarga dia kaya. Mentang-mentang gue kuliah di biayain sama orang tuanya, gue di suruh tanggung jawab buat nikahin dia. Maklum dia gak laku. Gemuk begitu.”

“Kalau begitu lo emang wajib tahu diri lah, bukannya nyakitin. Gemuk juga yang penting cewek.”

“Gue bisa balas budi dengan cara yang lain, gue sekarang sanggup ko balikin uang yang mereka kasih buat biayain gue kuliah. Tenang aja, gue tahu diri. Tapi gue gak bisa maksa hati gue buat bisa bertahan dengannya. Gue juga punya hak untuk jatuh cinta kan. Ada seseorang yang gue cintai. Gue korbanin gara-gara pernikahan ini.”

BRAKK!

Buket bunga yang aku bawa jatuh. Tubuhku gemetar saat mendengar Mas Maleq berkata seperti itu pada temannya. Ternyata selama ini Mas Maleq hanya pura-pura menerima pernikahan kami. Dia punya perempuan lain di luar sana.

Ternyata aku selama ini hanya di bodohi dan di manfaatkan. Sejahat ini lelaki yang membuat aku jatuh cinta dulu ternyata.

Kedua mataku berkedut, air mata keluar begitu saja. Tapi langsung kuusap dengan kerudung yang aku pakai. Rasanya tidak pantas jika aku saat ini harus menangis untuk lelaki sepertinya. Yang bahkan dengan kedua telingaku sendiri aku mendengar, dia ingin memberikan aku pada temannya.

Menjijikan!

Padahal tadi niat hati aku datang ke Bandara ingin memberikan kejutan dengan menjemput Mas Maleq diam-diam untuk p**ang ke rumah. Tapi justru aku yang mendapatkan kejutan darinya saat melihat dia kembali.

Padahal hampir dua tahun kami berpisah, Mas Maleq baru saja menyelesaikan kuliahnya S2 nya di luar negri. Dan hari ini harusnya pertemuan yang membuat kami bahagia untuk melepas rindu beser dalam dada. Karena setelah akad dulu dia langsung pergi.

Namun justru kenyataan pahit yang aku terima. Lelaki itu tak sebaik yang aku kira. Diam-diam dia mencintai perempuan lain. Diam-diam dia menghina fisikku di belakang.

Aku memungut buket bunga yang tadi jatuh. Lalu ku buang ke tempat sampah. Tidak jadi aku berikan padanya. Untuk apa? Mas Maleq dan temannya berdiri, kedua matanya menatap ke arahku. Namun hanya sesaat, detik berikutnya Mas Maleq berjalan keluar bandara dengan temannya.

Aku diam di tempat memejamkan mata sambil menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku. Sungguh sesak sekali dada ini. Lelaki yang menjadi kepercayaan keluargaku, yang sangat di sayang Ayahku karena kepintarannya, sampai rela disekolahkan S2 ke luar negri ternyata saat p**ang malah ingin membuangku.

Tidak tahu diri sekali.

Aku melangkah keluar dari bandara. Mas Maleq kini sudah ada di parkiran dengan temannya. Dan aku dengan dada tegap melangkah kesana.

Aku yakin meski aku muncul di depan wajahnya. Mas Maleq tidak akan pernah mengenalku. Perempuan yang tadi dengan entengnya dia hina seperti karung beras itu kini sudah berubah. Dan hari ini tadinya aku ingin memberikan kejutan tentang perubahanku padanya. Berharap dia akan senang dan kami bisa menjalani rumah tangga yang baik. Tapi hari ini justru awal dari kehancuran hubungan kami.

Aku masuk kedalam mobilku. Sedangkan Mas Maleq kulihat numpang ke mobil temennya. Dengan arah yang sama kita sama-sama p**ang kerumah. Dan aku menunggu pertemuan di rumah nanti akan seperti apa.

***

Satu jam kemudian. Aku lebih dulu sampai di rumah, Ibu tampak kaget saat aku p**ang sendiri tanpa Mas Maleq. Karena sejak pagi aku sudah sangat bersemangat ingin bertemu dengan suamiku.

“Loh ko p**ang sendiri? Suamimu mana nduk?”
Aku berusaha untuk biasa saja didepan kedua orang tuaku. Ingin tahu saja bagaimana Mas Maleq akan menceraikan aku setelah dia p**ang ke rumah. Apakah dia benar-benar berani bicara hal ini pada Ayahku yang sudah membiayai kuliahnya.

“Tadi pas Nika ke bandara Mas Maleq sudah tidak ada Bu. Apa belum sampai rumah?”

“Belum ada! Ibu kira kalian sudah bertemu di bandara. Ko malah p**ang sendiri. Ibu sudah masak makanan kes**aan suamimu loh.”

Aku hanya nyengir sinis. Lihat sebaik dan sesayang itu ibuku pada Mas Maleq. Tapi lelaki itu dengan santainya akan membuat luka buat kami. Tak bisa aku bayangkan betapa sakit hatinya mereka saat tahu apa yang Mas Maleq akan lakukan padaku, menceraikanku.

Aku berjalan masuk kedalam rumah. Masih bersama ibu yang ikut jalan di sampingku.

“Jadi tadi Maleq belum melihat kamu sama sekali Nik.” Aku menggeleng pelan.

“Wah, bisa langsung pingsan mantu Ibu kalau lihat kamu yang sekarang sudah secantik ini. Dua tahun lalu kan pas Maleq pergi kamu masih gemuk sekali. Atau kamu sudah memberi tahu keadaan kamu ini lewat telepon sebelumnya?” Aku menggelengkan kepala.

“Mas Maleq belum tahu bu.”

Mas Maleq selama ini jarang menghubungiku. Aku yang sesekali bertanya kabar saja, dia tak pernah mau membalas. Dulu kupikir Mas Maleq sibuk, tapi sekarang aku berpikir, dia sibuk dengan wanita lain.

“Mas sibuk, kamu jangan kirim pesan terus.” itu kata-kata andalannya untuk membela diri. Dan aku terlalu bodoh karena percaya begitu saja. Bucin karena cinta memang membuatku buta hati.

“Assalamualaikum!” Baru saja aku akan masuk kedalam kamar. Dari luar terdengar suara yang tak asing bagiku mengucap salam.

“Waalaikumsalam! Itu mungkin suamimu Nduk. Gak sabar ibu lihat kalian bertemu. Makin cinta dia pasti sama kamu yang makin cantik begini.”

~tbc~

Judul : Segara Maliq
Penulis Qasya
Baca di kbm

Kalau rame lanjut. Like, share dan komentar dulu yah yang bnyak baru lanjut.

Want your business to be the top-listed Media Company in Lamongan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address

Lamongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mas Al Rantau posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Subscribe

We will notify you when anything happens in Lamongan.