ALDO ROJAX
ARSV
Aldo Rojax Street Vlog | Art, Histori & Culture | My Youtube ALDO Channel official. Mulus Rahayu Berkah Salamet.
🇮🇩 West Java - Indonesia 🇮🇩
13/09/2026
Mohamad Sunjaya atau yang biasa disapa Kang Yoyon, lahir di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung, 28 Agustus 1937 dan wafat di Bandung, 13 Februari 2020.
Awal terjun di bidang seni secara otodidak tanpa mengenyam pendidikan seni secara formal. Saat SMA, Kang Yoyon mulai bermain drama dalam lakon “Di Langit Ada Bintang” (1955) karya Utuy Tatang Sontani, yang disutradarai Noor Asmara.
Tahun 1958, Kang Yoyon ikut mendirikan StudiKlub Teater Bandung (STB) dan bermain dalam beberapa produksinya, serta pernah menjadi sekretaris umum STB dalam beberapa periode.
Pada 28 Agustus 1995, Kang Yoyon mendirikan Actors Unlimited (AUL), di Bandung. Kang Yoyon membentuk AUL sebagai organisasi seni yang profesional sehingga mampu menunjang penciptaan produksi-produksi seni (khususnya seni pertunjukan). Beragam produksi telah dihasilkan bersama AUL. Bahkan, ia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan swasta demi mendukung pagelaran “Paman Vanya” karya Anton Chekov yang memakan waktu persiapan sekitar empat bulan.
Kang Yoyon, yang juga dikenal sebagai aktor teater tangguh, bekerja sebagai penyiar di Radio Mara, Bandung, sejak 1970. Dia sempat diangkat sebagai Pemimpin Redaksi Pusat Pemberitaan PRSSNI Jawa Barat pada 1979, namun menjelang akhir November 1991 dipecat karena dianggap bersalah menugaskan reporter radio melaporkan dan menyiarkan ke seluruh Jawa Barat mengenai kegiatan para mahasiswa dan pemuda di Bandung yang berdemonstrasi menentang Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Dia pun dilarang oleh aparat kekuasaan melakukan siaran di Radio Mara selama kurang lebih dua tahun, dan selama enam bulan, dia dilarang bepergian ke luar kota, semacam menjadi tahanan kota.
Ketika majalah Tempo, Editor, dan tabloid DeTik dibredel pada 1994, Mohamad Sunjaya bergabung dengan kelompok yang melawan pembredelan itu. Dua-tiga hari menjelang pembredelan, dia melakukan monitoring atas siaran-siaran secara intens. Sejumlah radio asing (BBC London, Radio Nederland, Radio Australia, Voice of America, Deutsche Welle) juga CNN, memberitakan pembredelan itu. Semua kegiatan itu dia rekam selama hampir 2 tahun. Hasilnya, sampai 1996, adalah 39 buah kaset, masing-masing berdurasi 90 menit, khusus berisi berita, komentar, wawancara, laporan mengenai pembredelan TEMPO, Editor, dan DeTik. Atas permintaan Goenawan Mohamad dan team redaksi Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta, dokumentasi tersebut ditranskip dan diterbitkan menjadi buku berjudul Breidel di Udara, yang diluncurkan 21 Juni 1996 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Mohamad Sunjaya (Kang Yoyon) merupakan salah seorang pendiri ISAI bersama Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Aristides Katoppo, Ashadi Siregar, dan Mochtar Pabottinggi. Kelompok ini, kemudian dikenal sebagai Komunitas Utan Kayu. Sejak reformasi, dia lebih banyak aktif di dunia teater, dunianya yang sebenarnya.
Mohamad Sunjaya pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Teater dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ; Sekarang Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI Bandung.
Sumber : wikipedia, sundadigi, yayasan kelola
13/09/2026
Godi Suwarna, lahir di Tasikmalaya-Jawa Barat pada 23 Mei 1956. Ia adalah sastrawan, dramawan dan tokoh budaya Sunda yang sampai saat ini masih aktif berkarya mendedikasikan dirinya bagi kebudayaan Sunda. Godi Suwarna dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen dan puisi yang dipublikasikan ke berbagai media massa. Dia merupakan salah satu penerima Hadiah Sastra Rancage (1996).
Kiprahnya diawali dengan pertama kali menulis sajak dan carpon dalam bahasa Sunda pada tahun 1976 ketika ia masih menjadi mahasiswa di IKIP Bandung. Selain menulis, sejak kecil Godi juga s**a bermain sandiwara. Pernah menjadi aktor, sutradara, dan juga menulis naskah drama, di antarnya “Burung-burung Hitam, Orang-orang Kelam, Gaok-gaok Geblek, dan Gor Gar.
Setelah tamat kuliah, ia mendirikan grup teater bersama mahasiswa IKIP Bandung. Pernah menjadi Sutradara Terbaik Porseni Mahasiswa Tingkat Nasional di tahun 1981. Kemudian Godi Suwarna bergabung di STB (Studiklub Teater Bandung), belajar teater kepada Suyatna Anirun. Di STB pernah bermain “King Lear”, “Sang Naga”, dan “Impian di Tengah Musim”. Tahun 1997 menyutradarai pagelaran puisi Konglomerat “Blues Kéré Lauk” di Universitas Wollongong, Australia.
Sebagai sastrawan “utuh”, ia penulis cerpen, penyair, dramawan, dan novelis sekaligus ia seniman dan budayawan yang terlihat lain dari yang lain. Selain penampilannya yang mempunyai karakter tersendiri, dalam setiap aksi panggungnya pun ia kerap mewarnai daya tarik tersendiri. Kalau sedang pentas baca sajak, lilin, air dan tanah mesti harus disertakan. Karena, menurut lelaki kurus berkumis tebal dan berambut putih gondrong ini, “api, air, dan tanah (adalah) simbol kehidupan.”
Caranya membaca sajak pun unik. Mungkin karena ia pemain teater, dalam membaca sajak Godi persis seperti ketika main teater. Kalau perlu, kepala dibanjur air dan tanah, menendang, dan berteriak. Gaya minculak-nya ini membuat sosoknya dikenal sebagai ‘pengguncang’ kemapanan tradisi kesusasteraan Sunda.
Kesenimanan Godi tumbuh subur di lingkungan yang memiliki apresiasi tinggi terhadap seni. Ayahnya, yang piawai memainkan kecapi, dan ibunya, yang pandai mendendangkan tembang Cianjuran, mungkin, menurunkan bakat seninya kepada si sulung yang bengal ini. Dongeng yang s**a dibacakan mereka dan cerita Sunda dari Manglé yang dibacakan secara teatrikal oleh Mang Engkos, pembantu di rumah tetangganya, memupuk bakat Godi. Kreativitas seninya mendapatkan lahan ekspresinya di Komunitas Anak Kampung Kondang, asuhan pamannya, Mang Dedi. Kampung Kondang adalah salah satu kampung di Desa Cinyasag, Ciamis. Nonton wayang meski harus mencuri waktu dan mendapat hukuman dari sekolah, nonton film layar tancap, dan aktif di Komunitas mematangkan jiwa senimannya.
Sempat mengenal “dunia luar” (tergila-gila lagu Barat) waktu di SMA, ia mengenal dunianya yang sebenarnya setelah masuk IKIP Bandung. Ditemukan oleh Wawan S. Husin, Godi mencemplungkan diri secara total dalam sastera dan teater. Dari totalitas ini, ia menghasilkan banyak karya berupa puisi, cerpen, novel dan naskah drama, baik dalam bahasa Sunda maupun Indonesia.
Kump**an puisinya “Blues Kéré Lauk” menyabet hadiah sastera Rancagé pada 1993. Sedangkan kump**an cerpennya Serat Sarwasatwa meraih hadiah yang sama pada 1996. Beberapa karyanya yang lain mendapatkan hadiah sastera LBSS dan DK Ardiwinata dari Paguyuban Pasundan.
Dalam perjalanan kariernya, Godi Suwarna juga pernah menjadi guru; pernah menjadi redaktur surat kabar Sipatahunan; pegawai Dinas Pendidikan Ciamis.
Penghargaan: Sutradara Terbaik dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni), Tingkat Jawa Barat (1980) dan Tingkat Nasional (1981); Hadiah Sastera Rancagé (1993) untuk buku Blues Kéré Lauk; Hadiah Sastera Rancagé (1996) untuk buku Serat Sarwasatwa
Karya (al.): Burung-Burung Hitam (sutradara dan penulis lakon); Orang-Orang Kelam (sutradara dan penulis lakon); Gaok-gaok (sutradara dan penulis lakon); Geblek (sutradara dan penulis lakon); Gor-gar (sutradara dan penulis lakon); Antologi Puisi Sunda Mutahir; Jagat Alit (kump**an sajak, 1979); Surat-Surat Kaliwat (kump**an sajak, 1984); Murang-Maring (kump**an cerpen, 1985); Blues Kéré Lauk (kump**an sajak, 1992); Serat Sarwasatwa (kump**an cerpen, 1995); Sajak Dongeng Si Ujang (kump**an sajak, 1998).
Sumber: Wikipedia dan Sundadigi
13/09/2026
Biasanya kita banyak melihat pemandangan cerobong asap bekas pabrik era kolonial itu kebanyakan di daerah Jawa Tengah, atau wilayah pantura. Sebagian besar di wilayah Priangan selain jarang, artefaknya sudah hilang, namun masih ada beberapa yang tersisa dan belum diketahui banyak orang di era modern ini.
Saya pernah menelusuri beberapa lokasi di kawasan Sumedang, masih ada beberapa artefak yang tersisa walau pun hanya tinggal cerobong asapnya saja, sementara bekas pabriknya sudah tidak ada, hanya tersisa pondasi-pondasinya saja. Minimnya dokumentasi keutuhan bangunannya, menjadi bias dan sulit membayangkan keutuhan bentuk pabriknya di era tersebut.
Lengkungan (arch bridge) jembatan cincin.
Arsitektur jembatan cincin
12/09/2026
Ki Umbara adalah nama samaran H. Wiredja Ranusulaksana, lahir di Kuningan, 10 Juli 1914. Ki Umbara adalah Pengarang Sunda yang yang tak pernah pensiun sampai usianya di angka 90 tahun ia meninggal (24 Desember 2004). Ia terkenal sebagai pengarang yang sangat produktif-roman satir pendek mirip cerita Si Kabayan, Si Lamsijan Kaédanan, terbit pertama kali pada 1983.
Sebenarnya Ki Umbara tidak hanya mengarang dalam bahasa Sunda. Tetapi ceritanya jauh lebih hidup jika ditulis dalam bahasa ini.
Ciri yang hampir langka dimiliki pengarang Sunda lainnya adalah pesan dakwahnya. Karena itu Ajip Rosidi menyebut Ki Umbara pendukung sastra dakwah Islamiyah. Dengan banyak menulis cerita tentang dunia siluman, pengarang Sunda yang dikarunia umur panjang ini hendak berdakwah kepada kaum Muslim bahwa manusia lebih tinggi derajatnya daripada setan, siluman atau jin. Kump**an cerita pendek yang menceritakan dunia siluman dikumpulkan dalam Diwadalkeun ku Siluman (1965), Teu Tulus Paéh Nundutan (1966), Jurig Gedong Sétan (2003), dan Harewos Ti Nu Gaib yang kini sedang dalam proses penerbitan oleh PT Kiblat Buku Utama.
Bukan hanya cerita tentang dunia siluman saja karya pria kelahiran Kuningan yang tamat pada 1933 dari Normaalschool di Serang ini. Dia banyak p**a menulis cerita-cerita keislaman, seperti Nu Tareuneung (1968, terbit kembali 2003) yang merupakan cerita sejarah Islam, Pahlawan-pahlawan ti Pasantren (1966, bersama almarhum S.A. Hikmat), dan Sempalan tina Tareh Islam, yang kini juga dalam proses penerbitan oleh penerbit Kiblat Buku Utama.
Ki Umbara sangat akrab dengan alam pikiran orang Sunda yang masih percaya pada setan, siluman atau jin. Dalam makalah untuk Seminar Tamaddun Melayu II di Kualalumpur pada 1989, Ajip Rosidi menyebutkan bahwa cerita-cerita Ki Umbara meneruskan tradisi sastera lama. Tidak mengherankan apabila beberapa karya pensiunan (1971) Kepala Sekolah SMP Muslimin III Bandung ini mendapat penghargaan dan hadiah. Antara lain Si Bedog Panjang (dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Si Golok Panjang) memenangi sayembara mengarang cerita dalam bahasa Indonesia dan Sunda yang diselenggarakan IKAPI pada 1967, cerita Kasilib memperoleh hadiah sastera tahunan majalah Manglé pada 1963. Pada 2003, bukunya Utara-Utari diberi penghargaan Hadiah Samsoedi dari Yayasan Kebudayaan Rancagé untuk kategori buku bacaan anak berbahasa Sunda.
Sepanjang kariernya, ia pernah bekerja sebagai Pegawai Sekretariat Pemda Jabar; pengarang cerita terutama dalam bahasa Sunda; guru SD; Kepala Sekolah SMP Muslimin III Bandung (pensiun 1967); Redaktur Manglé (sejak 1963) dan Pelet (1965-1967).
Buku-buku karyanya meliputi : Dewi Sri (1964); Beja ti Maranéhna (1965); Diwadalkeun ka Siluman (1965); Teu Tulus Paéh Nundutan (1966); Maju Jurang Mundur Jurang (1997); Utara-Utari (2002); Menak Amir (2002); Si Lamsijan Kaédanan (2003); Nu Tareuneung (1968, 2003); Jurig Gedog Setan (2003).
Ki Umbara mendapatkan penghargaan Hadiah Rancage untuk Jasa (....); Hadiah Samsoedi untuk buku Utara Utari (2003).
ELEH MEUNANG POKONA PERSIB ✊
12/09/2026
Runtah adalah band punk-rock legendaris asal Bandung yang dibentuk pada tahun 1995 dan menjadi bagian penting dari sejarah skena underground kota tersebut di dekade 90-an.
Kata "Runtah" berasal dari bahasa Sunda yang berarti "sampah".
Bagi sang vokalis, Pam, nama ini mencerminkan media untuk mengekspresikan gejolak muda, pencarian identitas, serta bentuk perlawanan sosial dan politik.
Band ini lahir di tengah maraknya gerakan independen di Bandung pada era 90-an, di mana panggung seperti GOR Saparua menjadi saksi bisu perkembangan subkultur ini.
Diskografi utama Runtah, berpusat pada album ikonik mereka yang sangat berpengaruh di kancah musik bawah tanah Indonesia.
Album Studio / Rilis Utama Punks 'n' Skins (1997 / 1998) Format Asli: Kaset (Riotic Records, 1998) Format Ulang/Reissue: CDr (We're Gonna Fight Records, Prancis), Kaset ulang (2019), dan Vinyl/Piringan Hitam (2019).
Daftar Lagu (Tracklist): Smash The State Skool B**r Me! B**r Me!Trendy Poseurs Teenage Rebel Mega For The Liberty We Are the Future (Punks N Skins) Poseurs (Live)
Kompilasi yang Melibatkan Runtah adalah Bandung's Burning! Vol. 1 (1997) – Riotic Records (menyumbangkan lagu "Poseurs") Injak Balik! A Bandung HC / Punk Comp (1997/2017) (menyumbangkan lagu "Mega")
Menikmati sudut demi sudut jembatan cincin
Fenomena jembatan cincin
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Address
Masih Di Dunia
Bandung
170945
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when ALDO ROJAX posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.