Doni Riw Pages

Doni Riw Pages

Share

Belajar Melihat Dunia dari Sudut yang Berbeda
Personal - Sosial - Ekonomi - Politik - Peradaban

13/08/2026

Soal chalange gratis sebotol khamer dengan hafalan surat Ad Dhuha.

Photos from Doni Riw Pages's post 13/08/2026

CHAPTER 4 — RUMAH

Tiga chapter pertama mungkin membuat kita bertanya-tanya tentang Al-Umran.

Tentang manuskrip.
Tentang jaringan manusia yang tidak terlihat.
Tentang berbagai peristiwa yang tampaknya terjadi secara kebetulan.

Tapi kali ini, kita berhenti sejenak.
Kita pulang.

Karena di balik seseorang yang kita lihat di ruang publik, selalu ada dunia lain yang jarang terlihat.

Ada rumah.
Ada keluarga.
Ada orang-orang yang menjaga ritme hidupnya.
Dan ada masa lalu yang mungkin belum selesai.

Di Chapter 4 — RUMAH, kita akan melihat sisi Arkan yang selama ini belum banyak kita kenal.

Dan mungkin, dari rumah inilah kita mulai memahami bahwa perjalanan seseorang tidak pernah dibentuk oleh dirinya sendiri saja.

Chapter 4 — RUMAH sudah TERBIT.
Dan seperti tiga chapter sebelumnya, masih GRATIS. ❤️

📖 Baca Chapter 4 sekarang.
👉 Link download ketik RUMAH atau ada juga di bio.

Terima kasih untuk kalian yang masih mengikuti perjalanan ini dari Chapter 1.

Kita baru berada di awal perjalanan.

Dan seperti biasa...
jangan terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai kebetulan.

— Doni Riw
NovelMisteri NovelThriller BacaNovel NovelGratis

12/08/2026

Kita sampai pada masa, di mana bilang merdeka saja masih dipaksa.

Jadi kalau dipaksa bilang merdeka itu merdeka atau tidak gaes?

11/08/2026

DEJAVU REVOLUSI PERANCIS
© Doni Riw
Negara Demokrasi Modern terlahir lewat Revolusi Perancis.
Sebelumnya, Perancis dikuasai Rezim Feodal. Kolaborasi antara aristokrat dengan pendeta gereja yang memerintah secara otoriter.
Otoritarianismenya tercermin dalam kata-kata Raja Luis XIV; "L'etate C'est Moi" atau "Negara adalah Saya".
Kalau ditranslate secara bebas kurang lebih semacam "Saya Indonesia, Saya Pancasila". Musuh saya adalah musuh pancasila dan musuh indonesia. 😎🤣
Tapi, seberapapun pongah Luis XIV, dia bukanlah penguasa sesungguhnya. Dia hanya boneka yang dikendalikan oleh Kardinal Mazarin, kepala kementrian di bawahnya.
Louis XIV terjerat hutang kepada bankir yahudi bernama Jean Baptiste Colbert akibat terlibat perang Spanyol. Hutang itu terus membengkak dan diwariskan kepada; Luis XV & Louis XVI.
Pada masa Louis XVI, hutang kepada Coulbert benar-benar sudah mengunung. Sampai-sampai, Coulbert menjadi penguasa sesungguhnya di atas raja.
Untuk membayar hutang itu, rezim mewajibkan rakyat membayar pajak berlipat. Na'asnya, hal itu disertai hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas. Lengkap sudah penderitaan.
Perilaku otoriter, hutang menggunung, pajak mencekik, adalah lobang besar yang siap menjerembabkan kekuasaan. Itu hukum alam.
Akhirnya, Louis XVI dieksekusi rakyatnya sendiri dengan Guillotine, mesin pemenggal kepala yang biasanya dia gunakan untuk mengeksekusi rakyatnya.
Rezim Feodal Perancis akhirnya tumbang digantikan sistem Demokrasi dan Nationstate yang bercita-cita membebaskan rakyat dari kezaliman.
Hari ini sejarah berbalik. Rezim Demokrasi dan Nationstate berganti menjadi sang diktator berikutnya.
Kira-kira, bagaimana nasib sistem Demokrasi yang kini menunjukkan sifat asli otoriternya? yang menanggung hutang segunung? Serta Pajak mencekik rakyat?
Tiba-tiba saya merasa dejavu.
Jogja 101220
IG doni riw
t.me/doniriw_channel
fb.me/doniriwchannel

10/08/2026

Mencintai negara itu bukan berarti memuja muji pemerintah. Mengkritik pemerintah itu bukan berarti membenci negara.

09/08/2026

🏴‍☠️ MEMBEDAH POLITIK PERUT ✨

​Apa sebenarnya "tali kendali" yang tersembunyi di balik piring makan kita?
​Sebuah majelis reflektif untuk mengajak kita kembali membongkar sejarah, melihat agenda di balik layar, dan memahami arah perjalanannya dari masa lalu hingga hari ini. Bukan sekadar soal makanan, tapi tentang misteri peradaban yang ditarik sejak zaman Romawi hingga MBG. Kita bahas bersama:

​🎙️ Ustadz Doni Riw

​🌿 Dalam suasana hangat dan santai, mari luangkan waktu sejenak untuk duduk bersama, menyelami puzzle sejarah, dan membuka wawasan di:

​🗓 Hari: Selasa, 11 Agustus 2026
⏰ Waktu: 19.30 WIB - Selesai
🏠 Tempat: Sate SKS
📍 https://maps.app.goo.gl/bje48FRFoEnSsnd1A
​👥 Terbuka untuk Umum

​💡 Ajak temanmu, pasanganmu, sahabat seperjalananmu. Karena mungkin, jawaban puzzle peradaban ini ada di majelis ini.

​📢 Bantu share, semoga jadi jalan hidayah bagi banyak orang. Yuk merapat! 🔥🔥🔥

08/08/2026

Soal NU dan Muhammadiyah

Photos from Doni Riw Pages's post 08/08/2026

Pasien merasa dirugikan.
Tenaga kesehatan merasa tertekan.
Rumah sakit juga punya persoalan sendiri.

Kalau semua pihak di dalam satu sistem sama-sama merasa dirugikan, mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Siapa yang salah?”

Tapi:
“Sebenarnya ada apa dengan sistemnya?”

Dan ini menarik.
Karena sering kali, kita terlalu sibuk melihat orang-orang yang berada di dalam sebuah masalah, sampai lupa melihat pola yang membuat mereka terus berada di sana.

Itulah salah satu hal yang ingin aku eksplorasi lewat Fragmen Al-Umran.

Bukan dalam buku teori yang melelahkan.
Tetapi dalam sebuah novel yang mengalir.

📖 Chapter 1, 2, dan 3 masih GRATIS.

Kalau ingin membaca dari awal, tulis komentar paling menarik menurutmu di bawah.

Aku akan kirimkan link download melalui DM.
Dan kalau kamu merasa karya ini layak terus dikembangkan, donasi sukarela juga dipersilakan.

NovelIndonesia NovelThriller ThrillerIntelektual JaringanTakTerlihat

07/08/2026

2000 tahun yang lalu, seorang penyair Romawi mengkritik MBG versi Romawi, Bread and Circuses.

Photos from Doni Riw Pages's post 07/08/2026

Kasus hate speech pada unggahan Threads almarhum Yurizal menurut saya tidak sesederhana soal ada oknum dokter atau nakes yang tidak punya empati.

Kalau hanya berhenti pada kesimpulan "dokternya jahat", kita mungkin sedang melihat gejala, bukan akar persoalannya.

Michel Foucault dalam The Birth of the Clinic menjelaskan bagaimana sejak lahirnya klinik modern di Eropa, cara pandang kedokteran mulai bergeser.

Pasien perlahan dipandang sebagai objek biologis yang harus diperiksa, diukur, dianalisis, dan diklasifikasikan.

Lahir apa yang ia sebut sebagai Medical Gaze.

Paradigma ini terbukti sangat berhasil mengembangkan ilmu kedokteran modern dan menyelamatkan jutaan nyawa.

Tetapi di sisi lain, ada konsekuensi sosiologis yang juga perlu kita sadari.

Ketika sistem kesehatan semakin birokratis, pasien dapat perlahan dipersepsi sebagai:

• nomor antrean

• beban administrasi

• kasus klinis

• angka statistik

bukan lagi manusia yang sedang ketakutan, menunggu, dan berharap.

Saya tidak sedang mengajak kita meninggalkan ilmu kedokteran biologis.

Justru sebaliknya.

Ilmu itu perlu terus dikembangkan, tetapi juga dilengkapi dengan perspektif sosiologi kedokteran, humaniora medis, dan patient-centered care, agar pasien tidak hanya dipandang sebagai tubuh yang sakit, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki rasa takut, harapan, keluarga, dan martabat.

Karena pada akhirnya, tugas kedokteran bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga merawat kemanusiaan.

Bagaimana menurutmu? Apakah pendidikan kedokteran modern sudah cukup memberi ruang bagi aspek kemanusiaan, atau justru perlu diperkuat?

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Bantul?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


Jl. Ratu Boko RT.08 P*K Gunung Sempu, Tamantirto, Kasihan, Bantul Yogyakarta
Bantul
55183