SEMS Lab
SEMS Laboratory Facebook to Accompany the Official Website at http://systems.ie.ui.ac.id Systems Engineering, Modeling and Simulation Laboratory
05/06/2026
Model-based policy making bukan pengganti evidence-based policy. Ia adalah langkah berikutnya: yang lebih jujur tentang kompleksitas sistem yang ingin kita ubah.
Bayangkan sebuah proses perumusan kebijakan energi yang berbeda dari yang biasa kita lihat.
Bukan dimulai dari target angka yang harus dicapai, lalu mencari bukti yang mendukungnya. Bukan p**a dimulai dari rekomendasi konsultan internasional yang berhasil di negara lain, lalu dicoba diterapkan dengan penyesuaian minimal dan harapan yang besar.
Ia dimulai dengan pertanyaan yang lebih jujur: sistem seperti apa yang sedang kita hadapi? Siapa saja aktor-aktornya, apa kepentingan mereka, dan bagaimana mereka akan merespons perubahan yang kita rancang? Di mana titik-titik kritis yang paling menentukan arah sistem ini — dan ke mana kita harus mendorong agar perubahan yang kita inginkan bisa benar-benar terjadi? Konsekuensi apa yang mungkin tidak kita duga, dan bagaimana sistem akan beradaptasi dengan cara yang tidak kita rencanakan?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh model-based policy making. Dan itulah yang membedakannya, secara fundamental, dari pendekatan yang selama ini kita andalkan.
Dari Bukti ke Pemahaman: Inilah yang Dimaksud dengan Kebijakan Berbasis Model – Part 7 Model-based policy making bukan pengganti evidence-based policy. Ia adalah langkah berikutnya: yang lebih jujur tentang kompleksitas sistem yang ingin kita ubah. Bayangkan sebuah proses perumusan k…
29/05/2026
Indonesia tidak kekurangan data tentang energi.
Laporan demi laporan sudah dihasilkan: oleh peneliti universitas, lembaga pemerintah, konsultan internasional, dan organisasi multilateral. Target sudah ditetapkan. Komitmen internasional sudah ditandatangani. Para ahli sudah memberikan rekomendasi yang didukung bukti empiris dari berbagai negara yang sudah lebih dulu menjalani transisi energi.
Tapi bauran energi kita masih didominasi oleh fosil. Investasi energi terbarukan masih jauh dari target yang sudah berkali-kali direvisi. Dan setiap kebijakan baru yang hadir sering terasa seperti tambalan di atas tambalan; bukan perubahan struktural yang benar-benar mengubah arah sistem.
Pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur adalah ini: apakah masalahnya memang kekurangan data dan riset? Atau ada sesuatu yang lebih dalam; sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghasilkan lebih banyak bukti?
Data dan Riset Sudah Ada, Lalu Mengapa Kebijakan Kita Masih Jalan di Tempat? – Part 6 Evidence-based policy adalah kemajuan besar. Tapi ia punya batas yang jarang diakui, dan batas itulah yang sering menentukan apakah kebijakan benar-benar bekerja. Indonesia tidak kekurangan data te…
22/05/2026
Menggunakan model disarankan, namun hati-hati karena ada model yang menyesatkan, model yang memperbudak, dan model yang digunakan untuk membenarkan, bukan untuk memahami.
Pada tahun 2020, model-model epidemiologi dari universitas terkemuka di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memprediksi puncak dan akhir COVID-19 dengan angka yang sangat spesifik. Model-model itu dibangun oleh orang-orang cerdas dengan data terbaik yang tersedia saat itu. Hasilnya? Hampir semua meleset dan sebagian besar meleset sangat jauh. Beberapa memprediksi pandemi akan mereda dalam hitungan bulan. Kenyataannya berlangsung lebih dari dua tahun dengan gelombang yang tidak terprediksi.
Pada tahun 2008, model-model risiko keuangan yang digunakan oleh bank-bank terbesar di dunia, model yang sudah divalidasi, disertifikasi, dan dipercaya selama bertahun-tahun oleh regulator dan pelaku industri, gagal mengantisipasi krisis yang kemudian menghancurkan ekonomi global. Model yang sama yang membuat para bankir merasa aman justru menjadi alasan mereka tidak melihat bahaya yang sedang mendekat. Ketika krisis akhirnya datang, bukan hanya bank-bank yang kolaps; jutaan orang kehilangan pekerjaan, rumah, dan tabungan hidup mereka.
Dua kasus. Dua bidang yang berbeda. Satu pelajaran yang sama: model yang dipercaya penuh, tanpa kesadaran akan batas-batasnya, bisa lebih berbahaya dari tidak punya model sama sekali.
All Models are Wrong, but some are useful… and some are dangerous – Part 5 Menggunakan model disarankan, namun hati-hati karena ada model yang menyesatkan, model yang memperbudak, dan model yang digunakan untuk membenarkan, bukan untuk memahami. Pada tahun 2020, model-mod…
15/05/2026
Model-based decision making bukan tentang lebih banyak data. Tapi tentang pertanyaan yang lebih baik.
Ada situasi yang terasa sangat membingungkan — dan sangat menggelisahkan.
Semua data sudah ada. Semua angka sudah dianalisis. Laporan sudah dibaca sampai halaman terakhir. Rapat sudah dijalankan, diskusi sudah panjang, dan keputusan akhirnya diambil dengan penuh keyakinan.
Lalu hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Bukan karena datanya keliru. Bukan karena analisisnya ceroboh. Bukan karena orangnya tidak kompeten. Tapi ada sesuatu yang hilang di antara data dan keputusan — sesuatu yang tidak tampak di spreadsheet manapun, tidak terlihat di dashboard apapun, dan tidak bisa ditemukan dengan menambah lebih banyak data lagi.
Apa yang hilang itu?
Data Sudah Lengkap, Tapi Keputusannya Tetap Salah — Ada yang Hilang di Antara Keduanya – Part 4 Model-based decision making bukan tentang lebih banyak data. Tapi tentang pertanyaan yang lebih baik. Ada situasi yang terasa sangat membingungkan — dan sangat menggelisahkan. Semua data sudah ada.…
08/05/2026
Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya.
Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan.
Memilih rute mana yang lebih cepat, atau setidaknya lebih terprediksi waktunya. Memutuskan apakah perlu membawa payung berdasarkan kondisi langit yang Anda lihat sekilas dari jendela. Anda memutuskan apakah perlu membawa payung hari ini. Anda menyimpulkan apakah meeting jam sembilan bisa digeser atau lebih baik tetap dijalankan. Paling sederhana, Anda mungkin juga memutuskan apakah sarapan dulu atau langsung berangkat dan memperkirakan konsekuensinya terhadap konsentrasi Anda nanti.
Namun demikian, tidak satu pun dari keputusan itu terasa seperti "menggunakan model." Semua terasa seperti akal sehat biasa, intuisi dan pengalaman. Hal yang dilakukan secara otomatis tanpa perlu berpikir terlalu keras.
Tapi mari kita berhenti sebentar. Dan periksa lebih cermat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika membuat keputusan-keputusan yang terasa "otomatis" itu.
Anda Bilang Tidak Pakai Model untuk Ambil Keputusan, namun Sejak Pagi ini Anda Sudah Memakainya Tiga Kali – Part 3 Setiap keputusan adalah sebuah model. Pertanyaannya hanya apakah kita menyadarinya. Pagi ini, sebelum sampai di tempat kerja, Anda sudah membuat beberapa keputusan. Memilih rute mana yang lebih cep…
01/05/2026
Tentang model, pola, dan cara pandang yang mengubah bagaimana kita melihat masalah
Ada momen tertentu yang terasa seperti déjà vu intelektual.
Anda sedang membaca berita tentang kemacetan Jakarta yang tidak kunjung selesai meski jalan terus dibangun. Lalu tiba-tiba teringat antrean panjang di instalasi gawat darurat rumah sakit yang selalu penuh meski bed terus ditambah. Lalu tiba-tiba teringat banjir yang entah bagaimana selalu terasa tidak berkurang dan seperti hanya berpindah tempat.
Tiga masalah yang berbeda. Tiga konteks yang tidak berhubungan. Tiga dunia yang sama sekali tidak saling mengenal.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu di bawah permukaan ketiganya yang terasa… sama.
Kemacetan, Antrean, dan Banjir: Mengapa Masalah yang Berbeda Sering Punya Wajah yang Sama? – Part 2 Tentang model, pola, dan cara pandang yang mengubah bagaimana kita melihat masalah Ada momen tertentu yang terasa seperti déjà vu intelektual. Anda sedang membaca berita tentang kemacetan Jakarta y…
24/04/2026
Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah.
Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang sama. Data yang disajikan identik. Waktu yang dihabiskan untuk memahaminya pun sama.
Lalu diskusi dimulai.
Orang pertama menyimpulkan: *masalahnya ada di eksekusi. Strateginya sudah benar, tapi implementasinya tidak konsisten.* Orang kedua menyimpulkan: *masalahnya ada di strateginya sendiri. Eksekusi yang lebih baik tidak akan mengubah apapun kalau arahnya memang salah.*
Keduanya cerdas. Keduanya serius. Keduanya bisa menjelaskan alasannya dengan koheren dan meyakinkan. Lalu siapa yang benar? Dan mengapa dua orang yang melihat realita yang sama bisa tiba di tempat yang sangat berbeda?
Jawabannya bukan pada datanya. Jawabannya ada di sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang kita bawa masuk ke ruangan itu jauh sebelum rapatnya dimulai.
Mental Model dalam Berpikir Sistem: Kita Melihat Masalah yang Sama — Tapi Kenapa Solusi Kita Berbeda? – Part 1 Mental model: peta tersembunyi yang menentukan bagaimana kita memecahkan masalah. Bayangkan sebuah rapat. Dua orang duduk di meja yang sama, membaca laporan yang sama, mendengarkan presentasi yang …
16/04/2026
Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor?
Tentang leverage points — mengapa kita sering bekerja keras di tempat yang salah.
Refleksi Berpikir Sistem: Kenapa Reformasi Birokrasi Selalu Terasa Seperti Mengepel Lantai Sambil Krannya Masih Bocor? Tentang leverage points — mengapa kita sering bekerja keras di tempat yang salah. Kita sudah pernah di sini sebelumnya. Nama saat ini adalah Reformasi Birokrasi Nama programnya berganti. Slogannya …
08/04/2026
Tumbuh dengan Karakter: Bagaimana Teknik Industri UI Menemukan Dirinya – Part 2
Artikel ini adalah artikel 2 dari 2 artikel tentang Sejarah Teknik Industri yang menuliskan tentang Ketika Teknik Industri Indonesia Menemukan Dirinya: Identitas, Strategi, dan Warisan (2000–2026). Sebagai bagian dari tulisan untuk menyambut Dirgahayu Teknik Industri ke 28, 30 Juni 2026 Hampir Dua Puluh Empat SKS dan Jam Sepuluh Malam Tapi gedung bukan satu-satunya tantangan. Ada tantangan yang lebih mendasar, yang dihadapi setiap hari, setiap semester: siapa yang mengajar?...
Tumbuh dengan Karakter: Bagaimana Teknik Industri UI Menemukan Dirinya – Part 2 Artikel ini adalah artikel 2 dari 2 artikel tentang Sejarah Teknik Industri yang menuliskan tentang Ketika Teknik Industri Indonesia Menemukan Dirinya: Identitas, Strategi, dan Warisan (2000–2026).…
08/04/2026
28 tahun yang lalu, pada 30 Juni 1998, selembar Surat Keputusan Ditjen Dikti nomor 207/DIKTI/Kep/1998 mengubah segalanya — setidaknya bagi saya, dan bagi disiplin ilmu yang saya cintai.
Departemen Teknik Industri Universitas Indonesia resmi berdiri.
Tapi jauh sebelum SK itu terbit, ada seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi tentang perencanaan strategis sebuah jurusan yang belum resmi ada. Perangkat lunaknya datang dalam bentuk floppy disk. Ujian skripsinya berlangsung hampir dua jam. Dan proyektor yang dipakai adalah pinjaman.
Mahasiswa itu adalah saya.
Dalam menyambut 28 tahun Teknik Industri UI pada 2026 ini, saya menuliskan untuk pertama kalinya, secara lengkap dan dalam perspektif saya sejujurnya, bagaimana departemen ini lahir, berjuang, dan tumbuh menjadi apa yang ia hari ini.
Ini bukan sejarah resmi. Ini adalah rekonstruksi personal dari seseorang yang ada di dalam ruangan ketika keputusan-keputusan itu diambil. Tentang strategi yang dimainkan jauh sebelum ada gedung. Tentang sangkar burung yang menjadi markas pertama. Tentang gedung bermaterial marmer yang dibangun dari dana alumni dan perabotan lelang bank yang bangkrut karena krisis. Tentang hampir 24 SKS yang harus diampu karena tidak ada pilihan lain. Tentang mahasiswa angkatan 1996 yang ikut berdemo demi jurusannya sendiri. Dan tentang tantangan yang datang bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam.
Prestasinya TIUI hari ini bukan karbitan. Ia punya akar — dan akar itu perlu diketahui.
Selengkapnya di hidayatno.id. Semoga bermanfaat.
http://hidayatno.id/2026/04/08/lahir-dari-tekad-perjuangan-bagaimana-teknik-industri-ui-menemukan-rumahnya/
Lahir dari Tekad Perjuangan: Bagaimana Teknik Industri UI Menemukan Rumahnya – Part 1 Artikel ini adalah artikel 1 dari 2 artikel tentang Sejarah Teknik Industri yang menuliskan tentang Lahir, Berjuang, dan Bertahan (1970–2000). Sebagai bagian dari tulisan untuk menyambut Dirgahayu …
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Telephone
Website
Address
Lt. 3, Gedung Lab Departemen Teknik Industri, Universitas
Depok
16424
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when SEMS Lab posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.