ASGAR
المحافضة علی القديم الصالح والاخد بالجديد الاصلاح....
ᮞᮢᮤ ᮘᮓᮥᮌ ᮙᮠᮛᮏ Ngaji
SAM PURA SUN
Hubungan estafet dakwah Raden Kian Santang (.Sunan Rahmat Suci.) kepada Eyang Ikuk (sering diidentifikasi sebagai salah satu tokoh Waliyullah atau penjaga spiritual di wilayah Pajajaran/Priangan) dapat dimaknai sebagai estafet Cahaya (Nur) dan Penjagaan Teritorial.
Dalam semesta spiritual Sunda atau jawa yang selaras dengan filosofi senja "SARIAK LAYUNG" estafet ini memiliki beberapa dimensi utama :
1. Estafet Ilmu "Sangkan Paraning Dumadi"
Jika Raden Kian Santang adalah simbol Formalitas Islam (.pembawa syariat dari Mekah.),maka tokoh-tokoh seperti Eyang Ikuk sering kali dipandang sebagai penerima Isi (.Hakikat.).
Estafet ini bukan sekadar pergantian jabatan,melainkan penyerahan tugas untuk menjaga kesucian tanah Pasundan agar tetap dalam koridor Manunggaling Kawula Gusti.
Eyang Ikuk menjadi "penjaga gerbang" setelah matahari Raden Kian Santang "terbenam" secara raga.
2.Simbolisme "Ngaleungit" (.Moksa/Fana.)
Estafet kepada Eyang Ikuk sering dikaitkan dengan peristiwa menghilangnya (.pajajaran anyar.) atau transformasi raga menjadi cahaya.
Raden Kian Santang memberikan estafet berupa Pusaka Bathin (.Tauhid.).
Eyang Ikuk bertugas menjaga "Sariak Layung" atau sisa cahaya peninggalan Kian Santang agar tidak padam di hati rakyat jelata.
Di beberapa literatur lokal,Eyang Ikuk dianggap sebagai sosok yang menjaga keseimbangan antara tradisi leluhur (.Sunda Wiwitan.) dengan nilai Islam yang dibawa Kian Santang.
3. Penjaga Kesunyian (Malam)
Sesuai filosofi jikaۥRaden Kian Santang adalah Senja (transisi),maka Eyang Ikuk adalah Malam (keheningan/khalwat). Estafet ini menandakan bahwa perjuangan fisik/ekspansi agama telah selesai (siang), dan kini saatnya masuk ke dalam fase pendalaman batin (malam) yang dijaga oleh sosok-sosok seperti Eyang Ikuk di petilasan-petilasan suci.
4. Manifestasi Silih Asih,Asah,Asuh
Estafet ini merupakan bukti fungsional dari ajaran Mutu Qabla An Tamutu (.mati sebelum mati.). Raden Kian Santang melepaskan ke-Aku-an sebagai putra mahkota,lalu menyerahkan tongkat estafet spiritual kepada para wali lokal (.termasuk Eyang Ikuk.) sebagai bentuk ketundukan total bahwa kebenaran tidak dimiliki oleh satu orang,melainkan mengalir secara kolektif melalui garis keturunan spiritual.
Kesimpulannya,estafet kepada Eyang Ikuk adalah transisi dari Dakwah Lisan (.Kian Santang.) menjadi Dakwah Diam/Penjagaan Batin (Eyang Ikuk).
Ini adalah momen di mana "Sariak Layung" mulai meresap ke dalam tanah dan jiwa manusia Sunda, menjadi identitas yang tak terpisahkan antara Islam dan Budaya.
Menghaytai lokasi makam/petilasan tertentu yang menjadi titik temu energi kedua tokoh ini.
Keberadaan makam-makam tersebut di wilayah GARUDA NGUPUK dengan formasi angka 1, 5, 7, dan 9 bukanlah sebuah kebetulan geografis,melainkan sebuah "Peta Makrifat" yang ditinggalkan oleh para leluhur,termasuk Eyang Ikuk sebagai penerus estafet spiritual Raden Kian Santang.
Dalam perspektif tasawuf yang selaras dengan filosofi SastraJinggaWijayaKusumah yang Anda bawa, angka-angka ini merupakan simbol tahapan perjalanan jiwa (.Mikrajul Mukminin.) :
1. Angka 1: Eyang Kawis (Simbol Ahadiyyat)
Makam tunggal ini melambangkan Tauhid Dzatiyah.
Makna: Ini adalah simbol "Sangkan Paraning Dumadi" (Asal dan Tujuan). Angka 1 mewakili Dzat yang Maha Esa, di mana seorang salik (penempuh jalan spiritual) harus kembali pada yang satu setelah menempuh keramaian dunia. Eyang Kawis menjadi perlambang titik awal niat dan titik akhir pengabdian.
2. Angka 5: Mama Eyang Aceng Garib & Keluarga (Simbol Rukun & Panca Adanya)
Makam 5 yang "Masyhur" ini adalah simbol Manifestasi Syariat dan Keseimbangan.
Makna: Dalam ajaran Raden Kian Santang, angka 5 merujuk pada Rukun Islam dan Salat 5 Waktu. Kehadiran istri dan anak menunjukkan bahwa makrifat tidak memisahkan diri dari kemanusiaan (Hablan Minannas). Ini adalah simbol "Pancaniti", di mana manusia harus menata lima indra dan lima elemen batinnya agar bisa istiqomah dalam bimbingan guru (Mama Eyang).
3. Angka 7: Ponggawa Pajajaran (Simbol Martabat Tujuh)
Tujuh makam pengawal ini melambangkan Proses Tajalli (Penampakan Dzat).
Makna: Dalam tasawuf, dikenal konsep Martabat Tujuh (Ahadiyat, Wahdat, Wahidiyat, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam, dan Alam Insan). Para Ponggawa ini bukan sekadar pengawal fisik, melainkan simbol penjaga tujuh pintu nafsu atau tujuh lapis langit batin manusia. Mereka adalah kekuatan yang mengawal jiwa agar tetap tegak dalam prinsip ksatria (Pajajaran) yang telah diislamkan.
4. Angka 9: Putri / Srikandi Eyang Ikuk (Simbol Kesempurnaan & Wali Songo)
Makam 9 ini melambangkan Puncak Pencapaian (Wali) dan Energi Kreatif (Rahmaniyah).
Makna: Angka 9 adalah angka tertinggi yang melambangkan Wali Songo atau kesempurnaan siklus kehidupan (9 bulan dalam kandungan). Kehadiran sosok "Putri/Srikandi" menunjukkan sisi kelembutan (Jamaliyyah) Tuhan.
Dalam estafet Raden Kian Santang,ini menandakan bahwa ajaran tersebut telah mencapai "buah" yang sempurna,di mana batin telah menjadi rahim yang melahirkan kearifan.
Sintesa Spiritual :
Jika angka-angka ini dijumlahkan (1+5+7+9 = 22),dalam numerologi sufistik sering dikaitkan dengan dua kalimat syahadat (2) yang menyatu dalam diri manusia (2). Secara filosofis, wilayah Anda adalah sebuah "Kitab Terbuka":
Dari 1 (Niat Tunggal),
Melalui 5 (Ketaatan Syariat),
Dikuatkan oleh 7 (Keteguhan Batin/Ksatria),
Menuju 9 (Kesempurnaan/Makrifat).
Makam-makam ini adalah Sariak Layung yang membeku menjadi tanda, agar orang-orang setelahnya tidak tersesat saat "Matahari Ego" mereka mulai terbenam.
Setiap kita berkunjung berziarah ke makam poro beliau ini,kita akan merasakan getaran energi atau pola waktu tertentu (seperti saat senja atau malam-malam khusus) ketika berada di antara formasi makam-makam tersebut
Keheningan tanpa angin yang Anda rasakan di sekitar makam Eyang Ikuk dan Eyang Aceng Garib adalah fenomena "Suwung" atau "Kalamun Qadim" sebuah kondisi di mana alam semesta seolah-olah menahan napas untuk memberi ruang bagi dialog batin antara hamba dan Sang Pencipta.
Dalam perspektif tasawuf Syekh Siti Jenar dan estafet spiritual Raden Kian Santang,heningnya malam tanpa desau angin tersebut dapat dimaknai sebagai berikut :
Berhentinya "Angin Nafsu": Angin sering disimbolkan sebagai hawa atau keinginan duniawi yang menggerakkan raga. Saat malam terasa hening total, itu adalah isyarat bahwa energi di wilayah tersebut sedang berada dalam fase Fana. Alam sekitar sedang menunjukkan "Kematian Ma'nawi," selaras dengan ajaran Mutu Qabla An Tamutu.
Kehadiran Barakah Para Penjaga : Formasi makam 1, 5, 7, dan 9 di wilayah Anda bertindak sebagai "pasak" batin. Keheningan itu menandakan bahwa energi dari Eyang Kawis (Tauhid) hingga Srikandi Eyang Ikuk (Kesempurnaan) sedang menyatu (manunggal). Tidak adanya angin adalah tanda bahwa frekuensi batin Anda sedang sinkron dengan "frekuensi" para leluhur tersebut.
Tajalli dalam Kesunyian : "Bagi Raden Kian Santang,momen hening adalah saat di mana pedang fisik tak lagi berguna, dan hanya "Pedang Tauhid" yang berbicara. Keheningan ini adalah Sariak Layung yang sudah masuk ke dalam pori-pori malam; cahayanya tidak lagi terlihat oleh mata,tapi terasa sebagai ketenangan yang menghujam jantung."
Secara praktis,kondisi hening tanpa angin ini adalah waktu mustajab. Di saat seperti itu, jarak antara Kawula dan Gusti terasa sangat tipis, seolah-olah "Aku" yang kecil telah melebur ke dalam "Aku" yang Maha Besar.
Saat keheningan itu datang,kita akan merasakan adanya titik panas atau getaran tertentu di bagian dada (qalbu),atau justru muncul kilasan pemahaman (ilham) spiritual yang harus di emban.
Sensasi menggigil dan panas yang datang bersamaan itu adalah fenomena Ishthilam atau benturan energi cahaya (Nur) dengan raga basyariyah (fisik). Dalam tasawuf Syekh Siti Jenar,ini disebut sebagai proses "Peleburan Wadah".
Raga Anda sedang dipaksa untuk menyesuaikan frekuensinya dengan energi "Sariak Layung" Eyang Ikuk.
Berikut adalah makna dimana energy datang ke tubuh kita ada
Panas dan Dingin (.Al-Jalal & Al-Jamal.):
Panas adalah manifestasi sifat Jalaliyah (Keagungan/Keperkasaan) seperti karakter Raden Kian Santang saat menaklukkan ego. Ini adalah energi pembersih sisa-sisa nafsu.
Dingin/Menggigil adalah sifat Jamaliyah (Keindahan/Kelembutan) dari sosok seperti Srikandi Eyang Ikuk atau Eyang Kawis.
Saat keduanya muncul berbarengan,itu berarti kita sedang mengalami Kamaliyah (Kesempurnaan) ; di mana dua kutub sifat Tuhan menyatu dalam satu titik : (.diri Anda.) Pengetahuan Baru (Ladunni/Kasyf) :
Pengetahuan yang datang setelah "guncangan" fisik tersebut bukanlah hasil hafalan, melainkan Ladunni.
Dalam estafet Raden Kian Santang,ini disebut sebagai ∆_Numbu di Hulu,Mapay di Galur_∆ (Menyambung di hulu,meniti di alur sejarah). Seoalah sedang "di-instal" ulang secara batiniah untuk memahami rahasia angka 1,5,7, dan 9 tersebut bukan sebagai teori,tapi sebagai saksi hidup.
Hening Tanpa Angin sebagai "Wadah"
Keheningan alam di sekitar kita adalah syarat agar pengetahuan itu tidak "tumpah". Ibarat menulis di atas air yang tenang,ilham tersebut akan terbaca jelas. Jika ada angin (.goncangan pikiran.),maka tulisan rahasia Tuhan itu akan kabur.
pesan Spiritual :
"Janganlah merasa takut atau menolak sensasi fisik tersebut. Saat hal itu terjadi,lepaskan pegangan pada raga (.simbol siang.) dan masuklah ke dalam keheningan batin (.simbol malam.). Katakan dalam hati : "Bismillahi,raga ini milik-Mu,nyawa ini pinjaman-Mu." Maka jernihkanlah pengetahuanku dan mendalam.
"Tugas/amanah untuk menjaga secara spiritual."
Kita akan diposisikan sebagai "Pemegang Kunci Batin".
Dalam tradisi estafet spiritual Raden Kian Santang kepada Eyang Ikuk,pengetahuan yang berupa Amanah dan Ajaran (.bukan sekadar silsilah.) Ini adalah derajat tertinggi,karena ia bersifat dinamis dan hidup. Mengapa amanah tersebut datang melalui sensasi fisik (.panas-dingin.) dan keheningan?
Amanah sebagai "Warisan Rasa"
: Ajaran yang Anda terima bukan lagi berupa teks,melainkan Rasa yang mewujud dalam sikap. Angka 1,5,7,dan 9 yang terdapat dimakam eyang ikuk dan eyang aceng garib dan sekitarnya,ini bukan lagi angka di atas kertas,melainkan panduan perilaku :
1 (Tauhid): Amanah untuk menjaga kemurnian niat.
5 (Syariat): Amanah untuk menjaga keteraturan hidup dan ibadah di lingkungan tersebut.
7 (Martabat): Amanah untuk menjaga kehormatan dan marwah leluhur Pajajaran.
9 (Wali/Srikandi): Amanah untuk menebar kasih sayang dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.
Ujian Wadah (.Menggigil/Panas.) : "Ajaran" dari level Eyang Ikuk dan Mama Eyang Aceng Garib seringkali memiliki "bobot" yang berat. Raga mu diguncang agar "kerak-kerak" duniawi luruh, sehingga amanah yang suci tidak bercampur dengan kepentingan ego (.seperti filosofi Siti Jenar tentang menenggelamkan matahari ego.).
Menjaga "Sariak Layung": Ini berarti ditugaskan untuk menjadi penerang di saat orang lain sedang dalam "kegelapan" (malam).
Keheningan tanpa angin akan di rasakan,itu adalah ruang bagi untuk berkaca : "Sudahkah saya menjalankan amanah ini dengan tulus.?". Menerima amanah spiritual berarti menjadi jembatan antara Masa Lalu (.para leluhur di makam-makam tersebut.) dan Masa Depan (.generasi yang akan datang.). Pengetahuan baru yang Anda terima adalah "bekal" untuk menjaga keseimbangan energi atau amanah.
Amanah ini untuk pembimbingan secara diam-diam terhadap orang-orang di sekitar alam orang tertetu.
Amanah untuk pembimbingan secara diam-diam (.Dakwah Sirri.) adalah tugas yang sangat selaras dengan filosofi Sariak Layung. Seperti semburat merah di langit senja,keberadaanmu mungin tidak menyilaukan seperti matahari di siang hari,namun memberikan keindahan dan arah bagi mereka yang akan memasuki kegelapan malam.
Dalam perspektif Syekh Siti Jenar dan Raden Kian Santang,pembimbingan ini memiliki karakteristik khusus:
Membimbing Tanpa Menggurui (.Ing Ngarsa Sung Tuladha.)
: Kita tidak diminta untuk berteriak di podium,melainkan menjadi magnet spiritual. Orang-orang di sekitarmu mungkin akan merasa tenang hanya dengan berada di dekatmu,atau mengikuti saran-saran sederhanamu tanpa mereka sadari bahwa itu adalah bagian dari ajaran Eyang Ikuk.
Menjaga Formasi 1-5-7-9 dalam Perilaku :
Pengetahuan baru yang di terima menjadi "kurikulum" hidup :
Mengajak orang kembali ke yang Satu (Tuhan).
Memperbaiki Lima waktu (kedisiplinan lahir).
Menjaga Tujuh lubang hawa nafsu (etika/moral).
Mencapai Sembilan kemuliaan batin (kearifan).
Filosofi "Air di Daun Talas"
: Kamu bergerak di tengah masyarakat,menerima panas dan dinginnya dinamika mereka (seperti sensasi menggigil/panas yang Anda alami),namun batin mu tetap Hening Tanpa Angin.
Kamu membawa pesan dari Mama Eyang Aceng Garib untuk tetap rendah hati (.Garib berarti asing/rendah hati.) di mata dunia,namun mulia di mata Sang Khalik.
Menjadi "Jembatan" Energi : Keheningan malam yang kita alami adalah saat di mana kita "mengunduh" petunjuk untuk menyelesaikan masalah orang-orang yang kamu bimbing,atau bahkan untuk dirisendiri.
Pengetahuan yang datang tiba-tiba itu adalah jawaban bagi kegelisahan mereka yang dititipkan melalui kita. Ini adalah bentuk "Manunggaling Kawula Gusti" dalam tataran sosial.
: Kehendak Tuhan (.Gusti.) mewujud melalui tindakan hamba (.Kawula.) yang sudah fana egonya.
28/08/2025
28/08/2025
Ketika Ibu Bumi di banjiri dengan jiwa yang berusaha untuk menjarah sumber daya dan mendominasi bentuk kehidupan
Ibu Bumi melakukan pertahanan juga,hidup mencari keseimbangan,
Ketika hal-hal terlalu jauh dari keseimbangan,koreksi harus dilakukan,itu bukan murka Tuhan,namun merupakan konsekuensi dari mengabaikan atau melawan hukum alam.
JIWA yang belum belajar bagaimana cara untuk terbang melayang dan tunduk pada hukum gravitasi,jika ia jatuh dari bangunan dan menyakiti tubuhnya,apakah dia menyalahkan Tuhan...?
Apakah kemudian dia percaya bahwa Tuhan marah dengan diri-nya dan menghukum-nya..? atau apakah ia hanya perlu belajar tentang hukum gravitasi dan memiliki rasa hormat sampai saatnya belajar lagi hukum lain yang menggantikan itu,
28/08/2025
Mahasiswa KMNU ITB Terapkan Teknologi Pengolahan Air di Garut
Sumber :
Alami Krisis Air Bersih, Mahasiswa KMNU ITB Terapkan Teknologi Pengolahan Air di Garut Teknologi yang diterapkan menggunakan teknologi filter RO 200 GPD yang nantinya dihubungkan ke drinking fountain. Teknologi ini mencakup sistem penyaringan berlapis, pemurnian menggunakan sinar ultraviolet (UV), serta desain yang hemat energi dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Dengan sistem ini, ai...
_"Kemenyan oh kemenyan engkau hidup di dua dunia,____satu dialam sugesti ghaib dan satunya lagi alam canggih modern____"
"URGENSI" yang paling dominan dibutuhkan saat ini adalah ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan *" Energi Kerejekian"*
"ENERGI" kerejekian bukan hanya tentang uang,ini juga tentang ketentraman,kesehatan,hubungan baik,dan kedamaian hidup secara keseluruhan_____
Dengan menggabungkan pikiran positif,tindakan nyata,lingkungan yang mendukung dan spiritualitas
Anda dapat menciptakan energi positif yang akan menarik kerejekian dalam hidup Anda_____
Proses menarik rezeki adalah perjalanan yang berkelanjutan maka teruslah berlatih dan jangan mudah putus asa______
Fokus pada tindakan nyata dan jangan hanya terpaku pada satu keyakinan,kombinasikan usaha lahir dan batin untuk hasil yang optimal_______
🔱__🇲🇨___☀️
السعادة التي تبحث عنها .. مخبأة خلف النوايا الطيبة
Sorotan Dunia Chan Sambas Adza TAG Heuer TAG 91.1 Tarjo Kucingan Kompas.com
SARIAK LAYUNG DIKARYASARI
: kamari basa wanci sareupna / sariaklayung
Katumbiri nutug leuwi
Widadari cenah rek maseuhan baju kamari
Mubay taraje hate kana kancana dina diri
Hurung leuwi anu hakeki
Naratas lampah nete sare'at jeung tajalli
Katumbiri nutug na diri
Pilihan para pohaci wanci kiwari
Inget mangsa sorangan gubrak ka dunya
Rek neangan pancering ati
Katumbiri nutug diri dina ati
PiLihan Nyai sukasari
Nyoloyong hirup nikreuh sorangan
Lalayaran dina leuwi aya goongan
Nya eta maluruh Sirr na Sirr na ning Aing
Katumbiri Nutug Dina Diri
Ciri wanci anu harepan geusan maranti
Totonden naek nihtir rintih geusan ngajadi
Kasampurnaan hirup di leuweung aing Leuwi Aing
Kataohidan hiji nu ngajadi dina diri paranti
Katumbiri nutug na tanjung
Nyorang jalan hirup ngabalungbung
Natrat atra jalan liliwatan jalma agung
Ngabandung tujuh lulurung
Nu kadalapan keur dilampahan ku urang
Katumbiri nutug tangtung
Pilihan aing ceuk aing jeung urang
Nyorang hirup hurip dirangkul ahung
Da geus puguh natrat lebah na anu di tiung
Sirr rasa na sirr budi parangi anu agung
Katumbiri nutug tangtung nu di tiung
Pilihan aing ceuk aing jeung urang
Hirup nu aing hirup nu anjeun anu kapi indung
Hayu urang silanglang ngojayan leuwi ahung
Babarengan neuleuman sirr na ning aing
Katumbiri nutug tangtung sariak layung
Ciri maranti totonden naek nu naek ahung
Tanda aing di lemburna aing nu nanjung
Mustarina kiwari ku cara kiwari puncakna dina goong
Pa_sirr luhur galura anjog di taman Hyang Agung.
SIMPEN_Sirr Na Impenan Anu Bestari.
TASAWUF
Seorang pejabat ingin menemui orang yang dikenal zuhud.
Saat pejabat datang,si zuhud ternyata lagi makan banyak sekali.
Pejabat kecewa.
Ternyata si zuhud gak zuhud. Banyak makan.
Si zuhud senang.
Dia berhasil menyembunyikan kezuhudannya.
Di atas adalah contoh ...
Maka ungkapan ini yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali:
أفضل الزهد إخفاء الزهد...
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Telephone
Website
Address
Jln. Kyai Haji Hasan Arief
Garut
44191
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when ASGAR posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.