Pesan Injil
Page ini di buat untuk memberitakan kabar baik bagi siapa saja yang rindu untuk mendengarkan Firman Tuhan Berbicara bagi kita..
10/06/2026
đđđĄđđđđ§, đŠđđđđđđ§! đđđŁđ§đđĄ đđđ§đ đŠđđđđĄđ đ đđ đđĄđđđđ
Sebuah Refleksi Kisah Pelarian Yunus
---------------------------
đ
đđąđ đȘđŻđȘ đ©đąđłđ¶đŽ đŹđąđźđ¶ đđąđŹđ¶đŹđąđŻ, đŹđąđłđŠđŻđą đŹđąđźđ¶ đźđŠđŻđšđŠđ”đąđ©đ¶đȘ đŹđŠđąđ„đąđąđŻ đžđąđŹđ”đ¶ đŽđŠđŹđąđłđąđŻđš,
đșđąđȘđ”đ¶ đŁđąđ©đžđą đŽđąđąđ”đŻđșđą đ”đŠđđąđ© đ”đȘđŁđą đŁđąđšđȘ đŹđąđźđ¶ đ¶đŻđ”đ¶đŹ đŁđąđŻđšđ¶đŻ đ„đąđłđȘ đ”đȘđ„đ¶đł.
â đđ°đźđą 13:11
â â â
âš đŁđđ đđšđđ
Pernahkah kita berada dalam kondisi setengah sadar â tahu ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan, tapi pikiran dan tubuh kita begitu berat untuk bergerak?
Mungkin itulah gambaran paling jujur dari kondisi rohani banyak dari kita hari ini.
Di dalam kitab Yunus, ada adegan yang mengejutkan.
Seorang nabi Tuhan tertidur lelap di palka kapal, sementara badai mengamuk di luar dan para pelaut panik berteriak kepada dewa-dewa mereka.
Lalu datanglah nakhoda kapal dan berkata keras kepada Yunus:
đ
"đđąđšđąđȘđźđąđŻđą đźđ¶đŻđšđŹđȘđŻ đŠđŻđšđŹđąđ¶ đ”đȘđ„đ¶đł đŁđŠđšđȘđ”đ¶ đŻđșđŠđŻđșđąđŹ? đđąđŻđšđ¶đŻđđąđ©, đŁđŠđłđŽđŠđłđ¶ đŹđŠđ±đąđ„đą đđđđđđźđ¶! đđ¶đŻđšđŹđȘđŻ đđđđđ đȘđ”đ¶ đąđŹđąđŻ đźđŠđŻđšđȘđŻđ„đąđ©đŹđąđŻ đŹđȘđ”đą, đŽđŠđ©đȘđŻđšđšđą đŹđȘđ”đą đ”đȘđ„đąđŹ đŁđȘđŻđąđŽđą."
â đ đ¶đŻđ¶đŽ 1:6
Adegan ini bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang nabi yang lalai. đđ»đ¶ đźđ±đźđčđźđ” đ°đČđżđșđ¶đ».
Dan suara yang memanggil Yunus untuk bangun â suara yang membangunkan kita hari ini â bukan suara kemarahan ilahi,
melainkan đđđźđżđź đđźđœđđČđ» đđźđ»đŽ đœđČđ»đđ” đžđźđđ¶đ”, yang terlalu mengasihi kita untuk membiarkan kita tenggelam dalam tidur rohani kita sendiri.
Bisa saja Kapten itu melambangkan Yesus.
Yang membangunkan Kita ketika kondisi rohani kita sedang tertidur
"đ đŠđŽđ¶đŽ đąđ„đąđđąđ© đđąđ±đ”đŠđŻ đđŠđŽđŠđđąđźđąđ”đąđŻ đŹđȘđ”đą." ibrani 2:10
â â â
âš đđĄđđđđŠđ
Bayangkan sebuah kapal di tengah badai.
Di geladak atas, angin meraung dan ombak
memukul dari segala arah.
Para penumpang mulai membuang muatan mereka â harta benda, kenyamanan, segala yang membebani â agar kapal tidak karam.
đđ»đ¶đčđźđ” đŽđźđșđŻđźđżđźđ» đ±đđ»đ¶đź đžđ¶đđź đ”đźđżđ¶ đ¶đ»đ¶:
kekacauan demi kekacauan silih berganti, ketidakpastian global, perpecahan sosial, gelombang ketakutan yang tak kunjung reda.
Dan di tengah semua itu, terlalu mudah bagi kita â seperti Yunus â untuk turun ke palka dan tertidur,
membius diri dengan kesibukan dan kenyamanan, sementara orang-orang di sekitar kita mencari-cari pegangan yang kuat.
Yang menarik untuk dipahami adalah:
"đ§đźđșđœđźđžđ»đđź đŹđđ»đđ đđČđżđđ¶đ±đđż đžđźđżđČđ»đź đ¶đź
đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđčđźđżđ¶đžđźđ» đ±đ¶đżđ¶ đ±đźđżđ¶ đœđźđ»đŽđŽđ¶đčđźđ» đđčđčđźđ”."
Ada panggilan yang ia hindari, dan tidur
adalah cara paling mudah untuk tidak mendengarnya.
Bukankah kita juga sering melakukan
hal yang sama â mengisi setiap celah keheningan dengan keramaian,
agar kita tidak perlu mendengar suara lembut Kapten yang memanggil kita kepada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri?
Dan ketika kita memilih untuk lari,
apa yang TUHAN lakukan?
Ia tidak memaksa.
Namun dengan kasih yang sabar
dan strategis, Ia akan mengarahkan kita melalui pengalaman-pengalaman yang justru paling kita butuhkan â
badai-badai yang terasa mengancam,
namun sebenarnya bersifat terapi
đđđžđźđ» đđ»đđđž đșđČđ»đŽđ”đźđ»đ°đđżđžđźđ»,
đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đđ»đđđž đșđČđșđđčđ¶đ”đžđźđ».
đđđžđźđ» đ”đđžđđșđźđ», đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đđ»đ±đźđ»đŽđźđ» đđ»đđđž đŻđČđżđŻđźđčđ¶đž.
â â â
Yesus sendiri mengajarkan prinsip ini dalam perumpamaan sepuluh gadis.
Yang mencengangkan bukan bahwa sebagian dari mereka tidak siap â melainkan bahwa đđČđșđđź đđČđœđđčđđ” đŽđźđ±đ¶đ đ¶đđ đđČđżđđ¶đ±đđż (Matius 25:5).
Mereka semua adalah orang percaya. Mereka semua menunggu hal yang sama.
Namun ketika panggilan tiba di tengah malam, separuhnya tidak siap.
Perumpamaan ini bukan tentang siapa yang lebih suci atau lebih disiplin.
Ini tentang satu hal yang tidak bisa dipinjam atau dibeli tergesa-gesa di menit terakhir:
đ”đđŻđđ»đŽđźđ» đđźđ»đŽ đ”đ¶đ±đđœ đ±đźđ» đ»đđźđđź
đ±đČđ»đŽđźđ» đ§đšđđđĄ,
yang terbentuk hari demi hari, dalam keheningan, dalam kepercayaan.
Minyak dalam perumpamaan itu melambangkan Roh Kudus â dan Roh Kudus tidak bisa ditransfer dari satu jiwa ke jiwa yang lain.
đđą đ©đąđŻđșđą đ„đąđ±đąđ” đ„đȘđ”đŠđłđȘđźđą đŽđŠđ€đąđłđą đ±đłđȘđŁđąđ„đȘ, đźđŠđđąđđ¶đȘ đ±đŠđŻđșđŠđłđąđ©đąđŻ đ„đȘđłđȘ đșđąđŻđš đ”đŠđłđ¶đŽ-đźđŠđŻđŠđłđ¶đŽ đŹđŠđ±đąđ„đą đđđđđ đșđąđŻđš đźđŠđŻđšđąđŽđȘđ©đȘ đŹđȘđ”đą.
Rasul Paulus memahami urgensi ini. Ia menulis kepada jemaat di Roma bukan dengan ancaman, tapi dengan seruan kasih:
đ
"đđąđŽđȘđ© đ”đȘđ„đąđŹ đŁđŠđłđŁđ¶đąđ” đ«đąđ©đąđ” đ”đŠđłđ©đąđ„đąđ± đŽđŠđŽđąđźđą đźđąđŻđ¶đŽđȘđą, đŹđąđłđŠđŻđą đȘđ”đ¶ đŹđąđŽđȘđ© đąđ„đąđđąđ© đŹđŠđšđŠđŻđąđ±đąđŻ đ©đ¶đŹđ¶đź đđąđ¶đłđąđ”.
đđąđ đȘđŻđȘ đ©đąđłđ¶đŽ đŹđąđźđ¶ đđąđŹđ¶đŹđąđŻ, đŹđąđłđŠđŻđą đŹđąđźđ¶ đźđŠđŻđšđŠđ”đąđ©đ¶đȘ đŹđŠđąđ„đąđąđŻ đžđąđŹđ”đ¶ đŽđŠđŹđąđłđąđŻđš, đșđąđȘđ”đ¶ đŁđąđ©đžđą đŽđąđąđ”đŻđșđą đ”đŠđđąđ© đ”đȘđŁđą đŁđąđšđȘ đŹđąđźđ¶ đ¶đŻđ”đ¶đŹ đŁđąđŻđšđ¶đŻ đ„đąđłđȘ đ”đȘđ„đ¶đł...
đđąđłđȘ đŽđ¶đ„đąđ© đ«đąđ¶đ© đźđąđđąđź, đ”đŠđđąđ© đ©đąđźđ±đȘđł đŽđȘđąđŻđš.
đđŠđŁđąđŁ đȘđ”đ¶ đźđąđłđȘđđąđ© đŹđȘđ”đą đźđŠđŻđąđŻđšđšđąđđŹđąđŻ đ±đŠđłđŁđ¶đąđ”đąđŻ-đ±đŠđłđŁđ¶đąđ”đąđŻ đŹđŠđšđŠđđąđ±đąđŻ đ„đąđŻ đźđŠđŻđšđŠđŻđąđŹđąđŻ đ±đŠđłđđŠđŻđšđŹđąđ±đąđŻ đŽđŠđŻđ«đąđ”đą đ”đŠđłđąđŻđš!"
â đđ°đźđą 13:10â12
Perhatikan urutan yang Paulus pilih: ia memulai dengan kasih, baru kemudian berbicara tentang bangkit dan bergerak.
"đœđđŁđđȘđŁ đđđ§đ đ©đđđȘđ§ đ§đ€đđđŁđ đđȘđ đđŁ đšđđ đđđđ§ đąđđŁđđąđđđ đđđđ©đđ§ đđ©đȘđ§đđŁ đđđđąđ, đąđđĄđđđŁđ đđŁ đąđđąđđđđ§đ đđŁ đ đđšđđ đŒđĄđĄđđ đąđđŁđđđđšđđĄđ đđŁ đ đđđđđȘđ„đđŁ đźđđŁđ đ©đđđ© đđđŁ đ„đđŁđȘđ đ©đđ§đđŁđ."
Ini tentang membiarkan kasih TUHAN yang sejati â kasih yang menyembuhkan,
mengalir begitu penuh di dalam hati kita sehingga tidak ada lagi ruang bagi kelesuan, ketakutan, dan pengalihan.
â â â
âš đ„đđđđđđŠđ
Sahabat, badai sedang mengamuk di luar.
Ombak kekacauan dunia ini nyata,
dan semakin hari semakin terasa.
Tapi di atas kapal yang sama dengan kita, ada Kapten yang tidak pernah panik, yang tidak pernah tertidur, yang suara-Nya lebih kuat dari angin yang paling kencang sekalipun.
Mari kita berhenti sejenak dan bertanya jujur kepada diri sendiri:
đđ±đąđŹđąđ© đąđ„đą đŁđąđšđȘđąđŻ đ„đąđłđȘ đ©đȘđ„đ¶đ± đŽđąđșđą đșđąđŻđš đŽđŠđ„đąđŻđš đŽđąđșđą "đ”đȘđ„đ¶đłđŹđąđŻ" đ„đąđłđȘ đ±đąđŻđšđšđȘđđąđŻ đđđđđ?
đđ¶đąđ”đąđŻ đąđ±đą đșđąđŻđš đŽđŠđ„đąđŻđš đŽđąđșđą đšđŠđŻđšđšđąđź đŁđŠđšđȘđ”đ¶ đŠđłđąđ” đ©đȘđŻđšđšđą đźđŠđźđŁđ¶đąđ” đŽđąđșđą đŠđŻđšđšđąđŻ đŁđŠđłđšđŠđłđąđŹ?
Ingat kisah Yunus.
Ketika ia akhirnya bersedia dilempar ke laut â ketika ia menyerahkan dirinya sepenuhnya â ikan besar itu bukan instrumen hukuman.
đđđ đźđ±đźđčđźđ” đžđČđ»đ±đźđżđźđźđ» đžđČđđČđčđźđșđźđđźđ».
Bahkan dalam kegelapan perut ikan paus itu, TUHAN ada: menunggu, menyertai, memulihkan.
Dan dari sana, Yunus akhirnya pergi ke Niniwe.
đ
"đđąđłđŠđŻđą đȘđ”đ¶, đŁđŠđłđ«đąđšđą-đ«đąđšđąđđąđ©, đŽđŠđŁđąđŁ đŹđąđźđ¶ đ”đȘđ„đąđŹ đ”đąđ©đ¶ đąđŹđąđŻ đ©đąđłđȘ đźđąđ¶đ±đ¶đŻ đąđŹđąđŻ đŽđąđąđ”đŻđșđą."
â đđąđ”đȘđ¶đŽ 25:13
Panggilan untuk berjaga-jaga ini bukan
undangan untuk hidup dalam kecemasan.
Ini adalah undangan untuk hidup dalam đžđČđđźđ±đźđżđźđ» đœđČđ»đđ”: menyadari bahwa kita dicintai, dipanggil, dan diutus.
Kita diundang untuk melepaskan muatan-muatan
yang membebani kapal kehidupan kita
â entah itu ambisi yang salah arah, kenyamanan yang membelenggu, atau ketakutan yang menghalangi langkah â
bukan karena TUHAN akan menghukum kita jika tidak melakukannya, tapi karena kita mulai mengenal Dia sebagai Pribadi yang layak dipercaya sepenuhnya.
đđźđœđđČđ» đžđ¶đđź đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđșđźđ»đŽđŽđ¶đč: "đđźđ»đŽđžđ¶đ! đđ»đ¶đčđźđ” đđźđźđđ»đđź!"
Bukan dengan cambuk ketakutan.
Melainkan dengan đđđźđżđź đđźđ»đŽ đđźđșđź đđźđ»đŽ đœđČđżđ»đźđ” đșđČđ»đČđ»đźđ»đŽđžđźđ» đ±đźđ»đźđ đđźđčđ¶đčđČđź â suara yang penuh otoritas, tapi lebih penuh lagi dengan kasih.
đđœđźđžđźđ” đžđ¶đđź đșđźđ đŻđźđ»đŽđžđ¶đ đ”đźđżđ¶ đ¶đ»đ¶?
â â â
đ đđąđ
Ya Bapa, terima kasih bahwa Engkau tidak pernah berhenti memanggil kami, bahkan ketika kami tertidur.
Tolong bangunkan hati kami â bukan dengan rasa takut, tapi dengan kasih-Mu yang sesungguhnya.
Jadikan kami peka terhadap panggilan-Mu, berani melepaskan beban yang tidak perlu, dan setia mengikut-Mu ke mana pun Engkau memimpin.
Di dalam nama Yesus, Kapten kami. Amin.
â â â
10/06/2026
đđđĄđđđđ§, đŠđđđđđđ§! đđđŁđ§đđĄ đđđ§đ đŠđđđđĄđ đ đđ đđĄđđđđ
Sebuah Refleksi Kisah Pelarian Yunus
---------------------------
đ
đđąđ đȘđŻđȘ đ©đąđłđ¶đŽ đŹđąđźđ¶ đđąđŹđ¶đŹđąđŻ, đŹđąđłđŠđŻđą đŹđąđźđ¶ đźđŠđŻđšđŠđ”đąđ©đ¶đȘ đŹđŠđąđ„đąđąđŻ đžđąđŹđ”đ¶ đŽđŠđŹđąđłđąđŻđš,
đșđąđȘđ”đ¶ đŁđąđ©đžđą đŽđąđąđ”đŻđșđą đ”đŠđđąđ© đ”đȘđŁđą đŁđąđšđȘ đŹđąđźđ¶ đ¶đŻđ”đ¶đŹ đŁđąđŻđšđ¶đŻ đ„đąđłđȘ đ”đȘđ„đ¶đł.
â đđ°đźđą 13:11
â â â
âš đŁđđ đđšđđ
Pernahkah kita berada dalam kondisi setengah sadar â tahu ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan, tapi pikiran dan tubuh kita begitu berat untuk bergerak?
Mungkin itulah gambaran paling jujur dari kondisi rohani banyak dari kita hari ini.
Di dalam kitab Yunus, ada adegan yang mengejutkan.
Seorang nabi Tuhan tertidur lelap di palka kapal, sementara badai mengamuk di luar dan para pelaut panik berteriak kepada dewa-dewa mereka.
Lalu datanglah nakhoda kapal dan berkata keras kepada Yunus:
đ
"đđąđšđąđȘđźđąđŻđą đźđ¶đŻđšđŹđȘđŻ đŠđŻđšđŹđąđ¶ đ”đȘđ„đ¶đł đŁđŠđšđȘđ”đ¶ đŻđșđŠđŻđșđąđŹ? đđąđŻđšđ¶đŻđđąđ©, đŁđŠđłđŽđŠđłđ¶ đŹđŠđ±đąđ„đą đđđđđđźđ¶! đđ¶đŻđšđŹđȘđŻ đđđđđ đȘđ”đ¶ đąđŹđąđŻ đźđŠđŻđšđȘđŻđ„đąđ©đŹđąđŻ đŹđȘđ”đą, đŽđŠđ©đȘđŻđšđšđą đŹđȘđ”đą đ”đȘđ„đąđŹ đŁđȘđŻđąđŽđą."
â đ đ¶đŻđ¶đŽ 1:6
Adegan ini bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang nabi yang lalai. đđ»đ¶ đźđ±đźđčđźđ” đ°đČđżđșđ¶đ».
Dan suara yang memanggil Yunus untuk bangun â suara yang membangunkan kita hari ini â bukan suara kemarahan ilahi,
melainkan đđđźđżđź đđźđœđđČđ» đđźđ»đŽ đœđČđ»đđ” đžđźđđ¶đ”, yang terlalu mengasihi kita untuk membiarkan kita tenggelam dalam tidur rohani kita sendiri.
Bisa saja Kapten itu melambangkan Yesus.
Yang membangunkan Kita ketika kondisi rohani kita sedang tertidur
"đ đŠđŽđ¶đŽ đąđ„đąđđąđ© đđąđ±đ”đŠđŻ đđŠđŽđŠđđąđźđąđ”đąđŻ đŹđȘđ”đą." ibrani 2:10
â â â
âš đđĄđđđđŠđ
Bayangkan sebuah kapal di tengah badai.
Di geladak atas, angin meraung dan ombak
memukul dari segala arah.
Para penumpang mulai membuang muatan mereka â harta benda, kenyamanan, segala yang membebani â agar kapal tidak karam.
đđ»đ¶đčđźđ” đŽđźđșđŻđźđżđźđ» đ±đđ»đ¶đź đžđ¶đđź đ”đźđżđ¶ đ¶đ»đ¶:
kekacauan demi kekacauan silih berganti, ketidakpastian global, perpecahan sosial, gelombang ketakutan yang tak kunjung reda.
Dan di tengah semua itu, terlalu mudah bagi kita â seperti Yunus â untuk turun ke palka dan tertidur,
membius diri dengan kesibukan dan kenyamanan, sementara orang-orang di sekitar kita mencari-cari pegangan yang kuat.
Yang menarik untuk dipahami adalah:
"đ§đźđșđœđźđžđ»đđź đŹđđ»đđ đđČđżđđ¶đ±đđż đžđźđżđČđ»đź đ¶đź
đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđčđźđżđ¶đžđźđ» đ±đ¶đżđ¶ đ±đźđżđ¶ đœđźđ»đŽđŽđ¶đčđźđ» đđčđčđźđ”."
Ada panggilan yang ia hindari, dan tidur
adalah cara paling mudah untuk tidak mendengarnya.
Bukankah kita juga sering melakukan
hal yang sama â mengisi setiap celah keheningan dengan keramaian,
agar kita tidak perlu mendengar suara lembut Kapten yang memanggil kita kepada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri?
Dan ketika kita memilih untuk lari,
apa yang TUHAN lakukan?
Ia tidak memaksa.
Namun dengan kasih yang sabar
dan strategis, Ia akan mengarahkan kita melalui pengalaman-pengalaman yang justru paling kita butuhkan â
badai-badai yang terasa mengancam,
namun sebenarnya bersifat terapi
đđđžđźđ» đđ»đđđž đșđČđ»đŽđ”đźđ»đ°đđżđžđźđ»,
đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đđ»đđđž đșđČđșđđčđ¶đ”đžđźđ».
đđđžđźđ» đ”đđžđđșđźđ», đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đđ»đ±đźđ»đŽđźđ» đđ»đđđž đŻđČđżđŻđźđčđ¶đž.
â â â
Yesus sendiri mengajarkan prinsip ini dalam perumpamaan sepuluh gadis.
Yang mencengangkan bukan bahwa sebagian dari mereka tidak siap â melainkan bahwa đđČđșđđź đđČđœđđčđđ” đŽđźđ±đ¶đ đ¶đđ đđČđżđđ¶đ±đđż (Matius 25:5).
Mereka semua adalah orang percaya. Mereka semua menunggu hal yang sama.
Namun ketika panggilan tiba di tengah malam, separuhnya tidak siap.
Perumpamaan ini bukan tentang siapa yang lebih suci atau lebih disiplin.
Ini tentang satu hal yang tidak bisa dipinjam atau dibeli tergesa-gesa di menit terakhir:
đ”đđŻđđ»đŽđźđ» đđźđ»đŽ đ”đ¶đ±đđœ đ±đźđ» đ»đđźđđź
đ±đČđ»đŽđźđ» đ§đšđđđĄ,
yang terbentuk hari demi hari, dalam keheningan, dalam kepercayaan.
Minyak dalam perumpamaan itu melambangkan Roh Kudus â dan Roh Kudus tidak bisa ditransfer dari satu jiwa ke jiwa yang lain.
đđą đ©đąđŻđșđą đ„đąđ±đąđ” đ„đȘđ”đŠđłđȘđźđą đŽđŠđ€đąđłđą đ±đłđȘđŁđąđ„đȘ, đźđŠđđąđđ¶đȘ đ±đŠđŻđșđŠđłđąđ©đąđŻ đ„đȘđłđȘ đșđąđŻđš đ”đŠđłđ¶đŽ-đźđŠđŻđŠđłđ¶đŽ đŹđŠđ±đąđ„đą đđđđđ đșđąđŻđš đźđŠđŻđšđąđŽđȘđ©đȘ đŹđȘđ”đą.
Rasul Paulus memahami urgensi ini. Ia menulis kepada jemaat di Roma bukan dengan ancaman, tapi dengan seruan kasih:
đ
"đđąđŽđȘđ© đ”đȘđ„đąđŹ đŁđŠđłđŁđ¶đąđ” đ«đąđ©đąđ” đ”đŠđłđ©đąđ„đąđ± đŽđŠđŽđąđźđą đźđąđŻđ¶đŽđȘđą, đŹđąđłđŠđŻđą đȘđ”đ¶ đŹđąđŽđȘđ© đąđ„đąđđąđ© đŹđŠđšđŠđŻđąđ±đąđŻ đ©đ¶đŹđ¶đź đđąđ¶đłđąđ”.
đđąđ đȘđŻđȘ đ©đąđłđ¶đŽ đŹđąđźđ¶ đđąđŹđ¶đŹđąđŻ, đŹđąđłđŠđŻđą đŹđąđźđ¶ đźđŠđŻđšđŠđ”đąđ©đ¶đȘ đŹđŠđąđ„đąđąđŻ đžđąđŹđ”đ¶ đŽđŠđŹđąđłđąđŻđš, đșđąđȘđ”đ¶ đŁđąđ©đžđą đŽđąđąđ”đŻđșđą đ”đŠđđąđ© đ”đȘđŁđą đŁđąđšđȘ đŹđąđźđ¶ đ¶đŻđ”đ¶đŹ đŁđąđŻđšđ¶đŻ đ„đąđłđȘ đ”đȘđ„đ¶đł...
đđąđłđȘ đŽđ¶đ„đąđ© đ«đąđ¶đ© đźđąđđąđź, đ”đŠđđąđ© đ©đąđźđ±đȘđł đŽđȘđąđŻđš.
đđŠđŁđąđŁ đȘđ”đ¶ đźđąđłđȘđđąđ© đŹđȘđ”đą đźđŠđŻđąđŻđšđšđąđđŹđąđŻ đ±đŠđłđŁđ¶đąđ”đąđŻ-đ±đŠđłđŁđ¶đąđ”đąđŻ đŹđŠđšđŠđđąđ±đąđŻ đ„đąđŻ đźđŠđŻđšđŠđŻđąđŹđąđŻ đ±đŠđłđđŠđŻđšđŹđąđ±đąđŻ đŽđŠđŻđ«đąđ”đą đ”đŠđłđąđŻđš!"
â đđ°đźđą 13:10â12
Perhatikan urutan yang Paulus pilih: ia memulai dengan kasih, baru kemudian berbicara tentang bangkit dan bergerak.
"đœđđŁđđȘđŁ đđđ§đ đ©đđđȘđ§ đ§đ€đđđŁđ đđȘđ đđŁ đšđđ đđđđ§ đąđđŁđđąđđđ đđđđ©đđ§ đđ©đȘđ§đđŁ đđđđąđ, đąđđĄđđđŁđ đđŁ đąđđąđđđđ§đ đđŁ đ đđšđđ đŒđĄđĄđđ đąđđŁđđđđšđđĄđ đđŁ đ đđđđđȘđ„đđŁ đźđđŁđ đ©đđđ© đđđŁ đ„đđŁđȘđ đ©đđ§đđŁđ."
Ini tentang membiarkan kasih TUHAN yang sejati â kasih yang menyembuhkan,
mengalir begitu penuh di dalam hati kita sehingga tidak ada lagi ruang bagi kelesuan, ketakutan, dan pengalihan.
â â â
âš đ„đđđđđđŠđ
Sahabat, badai sedang mengamuk di luar.
Ombak kekacauan dunia ini nyata,
dan semakin hari semakin terasa.
Tapi di atas kapal yang sama dengan kita, ada Kapten yang tidak pernah panik, yang tidak pernah tertidur, yang suara-Nya lebih kuat dari angin yang paling kencang sekalipun.
Mari kita berhenti sejenak dan bertanya jujur kepada diri sendiri:
đđ±đąđŹđąđ© đąđ„đą đŁđąđšđȘđąđŻ đ„đąđłđȘ đ©đȘđ„đ¶đ± đŽđąđșđą đșđąđŻđš đŽđŠđ„đąđŻđš đŽđąđșđą "đ”đȘđ„đ¶đłđŹđąđŻ" đ„đąđłđȘ đ±đąđŻđšđšđȘđđąđŻ đđđđđ?
đđ¶đąđ”đąđŻ đąđ±đą đșđąđŻđš đŽđŠđ„đąđŻđš đŽđąđșđą đšđŠđŻđšđšđąđź đŁđŠđšđȘđ”đ¶ đŠđłđąđ” đ©đȘđŻđšđšđą đźđŠđźđŁđ¶đąđ” đŽđąđșđą đŠđŻđšđšđąđŻ đŁđŠđłđšđŠđłđąđŹ?
Ingat kisah Yunus.
Ketika ia akhirnya bersedia dilempar ke laut â ketika ia menyerahkan dirinya sepenuhnya â ikan besar itu bukan instrumen hukuman.
đđđ đźđ±đźđčđźđ” đžđČđ»đ±đźđżđźđźđ» đžđČđđČđčđźđșđźđđźđ».
Bahkan dalam kegelapan perut ikan paus itu, TUHAN ada: menunggu, menyertai, memulihkan.
Dan dari sana, Yunus akhirnya pergi ke Niniwe.
đ
"đđąđłđŠđŻđą đȘđ”đ¶, đŁđŠđłđ«đąđšđą-đ«đąđšđąđđąđ©, đŽđŠđŁđąđŁ đŹđąđźđ¶ đ”đȘđ„đąđŹ đ”đąđ©đ¶ đąđŹđąđŻ đ©đąđłđȘ đźđąđ¶đ±đ¶đŻ đąđŹđąđŻ đŽđąđąđ”đŻđșđą."
â đđąđ”đȘđ¶đŽ 25:13
Panggilan untuk berjaga-jaga ini bukan
undangan untuk hidup dalam kecemasan.
Ini adalah undangan untuk hidup dalam đžđČđđźđ±đźđżđźđ» đœđČđ»đđ”: menyadari bahwa kita dicintai, dipanggil, dan diutus.
Kita diundang untuk melepaskan muatan-muatan
yang membebani kapal kehidupan kita
â entah itu ambisi yang salah arah, kenyamanan yang membelenggu, atau ketakutan yang menghalangi langkah â
bukan karena TUHAN akan menghukum kita jika tidak melakukannya, tapi karena kita mulai mengenal Dia sebagai Pribadi yang layak dipercaya sepenuhnya.
đđźđœđđČđ» đžđ¶đđź đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđșđźđ»đŽđŽđ¶đč: "đđźđ»đŽđžđ¶đ! đđ»đ¶đčđźđ” đđźđźđđ»đđź!"
Bukan dengan cambuk ketakutan.
Melainkan dengan đđđźđżđź đđźđ»đŽ đđźđșđź đđźđ»đŽ đœđČđżđ»đźđ” đșđČđ»đČđ»đźđ»đŽđžđźđ» đ±đźđ»đźđ đđźđčđ¶đčđČđź â suara yang penuh otoritas, tapi lebih penuh lagi dengan kasih.
đđœđźđžđźđ” đžđ¶đđź đșđźđ đŻđźđ»đŽđžđ¶đ đ”đźđżđ¶ đ¶đ»đ¶?
â â â
đ đđąđ
Ya Bapa, terima kasih bahwa Engkau tidak pernah berhenti memanggil kami, bahkan ketika kami tertidur.
Tolong bangunkan hati kami â bukan dengan rasa takut, tapi dengan kasih-Mu yang sesungguhnya.
Jadikan kami peka terhadap panggilan-Mu, berani melepaskan beban yang tidak perlu, dan setia mengikut-Mu ke mana pun Engkau memimpin.
Di dalam nama Yesus, Kapten kami. Amin.
â â â
10/06/2026
đđđĄđđđđ§, đŠđđđđđđ§! đđđŁđ§đđĄ đđđ§đ đŠđđđđĄđ đ đđ đđĄđđđđ
Sebuah Refleksi Kisah Pelarian Yunus
---------------------------
đ
đđąđ đȘđŻđȘ đ©đąđłđ¶đŽ đŹđąđźđ¶ đđąđŹđ¶đŹđąđŻ, đŹđąđłđŠđŻđą đŹđąđźđ¶ đźđŠđŻđšđŠđ”đąđ©đ¶đȘ đŹđŠđąđ„đąđąđŻ đžđąđŹđ”đ¶ đŽđŠđŹđąđłđąđŻđš, đșđąđȘđ”đ¶ đŁđąđ©đžđą đŽđąđąđ”đŻđșđą đ”đŠđđąđ© đ”đȘđŁđą đŁđąđšđȘ đŹđąđźđ¶ đ¶đŻđ”đ¶đŹ đŁđąđŻđšđ¶đŻ đ„đąđłđȘ đ”đȘđ„đ¶đł.
â đđ°đźđą 13:11
â â â
âš đŁđđ đđšđđ
Pernahkah kita berada dalam kondisi setengah sadar â tahu ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan, tapi pikiran dan tubuh kita begitu berat untuk bergerak?
Mungkin itulah gambaran paling jujur dari kondisi
rohani banyak dari kita hari ini.
Di dalam kitab Yunus, ada adegan yang mengejutkan.
Seorang nabi Tuhan tertidur lelap di palka kapal, sementara badai mengamuk di luar dan para pelaut panik berteriak kepada dewa-dewa mereka.
Lalu datanglah nakhoda kapal dan berkata keras kepada Yunus:
đ
"đđąđšđąđȘđźđąđŻđą đźđ¶đŻđšđŹđȘđŻ đŠđŻđšđŹđąđ¶ đ”đȘđ„đ¶đł đŁđŠđšđȘđ”đ¶ đŻđșđŠđŻđșđąđŹ? đđąđŻđšđ¶đŻđđąđ©, đŁđŠđłđŽđŠđłđ¶ đŹđŠđ±đąđ„đą đđđđđđźđ¶! đđ¶đŻđšđŹđȘđŻ đđđđđ đȘđ”đ¶ đąđŹđąđŻ đźđŠđŻđšđȘđŻđ„đąđ©đŹđąđŻ đŹđȘđ”đą, đŽđŠđ©đȘđŻđšđšđą đŹđȘđ”đą đ”đȘđ„đąđŹ đŁđȘđŻđąđŽđą."
â đ đ¶đŻđ¶đŽ 1:6
Adegan ini bukan sekadar catatan sejarah tentang
seorang nabi yang lalai. đđ»đ¶ đźđ±đźđčđźđ” đ°đČđżđșđ¶đ».
Dan suara yang memanggil Yunus untuk bangun â suara yang membangunkan kita hari ini â bukan suara kemarahan ilahi,
melainkan đđđźđżđź đđźđœđđČđ» đđźđ»đŽ đœđČđ»đđ” đžđźđđ¶đ”, yang terlalu mengasihi kita untuk membiarkan kita tenggelam dalam tidur rohani kita sendiri.
Bisa saja Kapten itu melambangkan Yesus.
Yang membangunkan Kita ketika kondisi rohani kita sedang tertidur
"đ đŠđŽđ¶đŽ đąđ„đąđđąđ© đđąđ±đ”đŠđŻ đđŠđŽđŠđđąđźđąđ”đąđŻ đŹđȘđ”đą." ibrani 2:10
â â â
âš đđĄđđđđŠđ
Bayangkan sebuah kapal di tengah badai.
Di geladak atas, angin meraung dan ombak
memukul dari segala arah.
Para penumpang mulai membuang muatan mereka â harta benda, kenyamanan, segala yang membebani â agar kapal tidak karam.
đđ»đ¶đčđźđ” đŽđźđșđŻđźđżđźđ» đ±đđ»đ¶đź đžđ¶đđź đ”đźđżđ¶ đ¶đ»đ¶:
kekacauan demi kekacauan silih berganti, ketidakpastian global, perpecahan sosial, gelombang ketakutan yang tak kunjung reda.
Dan di tengah semua itu, terlalu mudah bagi kita â seperti Yunus â untuk turun ke palka dan tertidur, membius diri dengan kesibukan dan kenyamanan, sementara orang-orang di sekitar kita mencari-cari pegangan yang kuat.
Yang menarik untuk dipahami adalah:
"đ§đźđșđœđźđžđ»đđź đŹđđ»đđ đđČđżđđ¶đ±đđż đžđźđżđČđ»đź đ¶đź
đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđčđźđżđ¶đžđźđ» đ±đ¶đżđ¶ đ±đźđżđ¶ đœđźđ»đŽđŽđ¶đčđźđ» đđčđčđźđ”."
Ada panggilan yang ia hindari, dan tidur
adalah cara paling mudah untuk tidak mendengarnya.
Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama â mengisi setiap celah keheningan dengan keramaian, agar kita tidak perlu mendengar suara lembut Kapten yang memanggil kita kepada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri?
Dan ketika kita memilih untuk lari, apa yang TUHAN lakukan?
Ia tidak memaksa. Namun dengan kasih yang sabar
dan strategis, Ia akan mengarahkan kita melalui pengalaman-pengalaman yang justru paling kita butuhkan â
badai-badai yang terasa mengancam,
namun sebenarnya bersifat terapeutik.
đđđžđźđ» đđ»đđđž đșđČđ»đŽđ”đźđ»đ°đđżđžđźđ», đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đđ»đđđž đșđČđșđđčđ¶đ”đžđźđ».
đđđžđźđ» đ”đđžđđșđźđ», đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đđ»đ±đźđ»đŽđźđ» đđ»đđđž đŻđČđżđŻđźđčđ¶đž.
â â â
Yesus sendiri mengajarkan prinsip ini dalam perumpamaan sepuluh gadis.
Yang mencengangkan bukan bahwa sebagian dari mereka tidak siap â melainkan bahwa đđČđșđđź đđČđœđđčđđ” đŽđźđ±đ¶đ đ¶đđ đđČđżđđ¶đ±đđż (Matius 25:5).
Mereka semua adalah orang percaya. Mereka semua menunggu hal yang sama.
Namun ketika panggilan tiba di tengah malam, separuhnya tidak siap.
Perumpamaan ini bukan tentang siapa yang lebih suci atau lebih disiplin. Ini tentang satu hal yang tidak bisa dipinjam atau dibeli tergesa-gesa di menit terakhir:
đ”đđŻđđ»đŽđźđ» đđźđ»đŽ đ”đ¶đ±đđœ đ±đźđ» đ»đđźđđź đ±đČđ»đŽđźđ» đ§đšđđđĄ, yang terbentuk hari demi hari, dalam keheningan, dalam kepercayaan.
minyak dalam perumpamaan itu melambangkan Roh Kudus â dan Roh Kudus tidak bisa ditransfer dari satu jiwa ke jiwa yang lain.
đđą đ©đąđŻđșđą đ„đąđ±đąđ” đ„đȘđ”đŠđłđȘđźđą đŽđŠđ€đąđłđą đ±đłđȘđŁđąđ„đȘ, đźđŠđđąđđ¶đȘ đ±đŠđŻđșđŠđłđąđ©đąđŻ đ„đȘđłđȘ đșđąđŻđš đ”đŠđłđ¶đŽ-đźđŠđŻđŠđłđ¶đŽ đŹđŠđ±đąđ„đą đđđđđ đșđąđŻđš đźđŠđŻđšđąđŽđȘđ©đȘ đŹđȘđ”đą.
Rasul Paulus memahami urgensi ini.
Ia menulis kepada jemaat di Roma bukan dengan ancaman, tapi dengan seruan kasih:
đ
"đđąđŽđȘđ© đ”đȘđ„đąđŹ đŁđŠđłđŁđ¶đąđ” đ«đąđ©đąđ” đ”đŠđłđ©đąđ„đąđ± đŽđŠđŽđąđźđą đźđąđŻđ¶đŽđȘđą, đŹđąđłđŠđŻđą đȘđ”đ¶ đŹđąđŽđȘđ© đąđ„đąđđąđ© đŹđŠđšđŠđŻđąđ±đąđŻ đ©đ¶đŹđ¶đź đđąđ¶đłđąđ”.
đđąđ đȘđŻđȘ đ©đąđłđ¶đŽ đŹđąđźđ¶ đđąđŹđ¶đŹđąđŻ, đŹđąđłđŠđŻđą đŹđąđźđ¶ đźđŠđŻđšđŠđ”đąđ©đ¶đȘ đŹđŠđąđ„đąđąđŻ đžđąđŹđ”đ¶ đŽđŠđŹđąđłđąđŻđš, đșđąđȘđ”đ¶ đŁđąđ©đžđą đŽđąđąđ”đŻđșđą đ”đŠđđąđ© đ”đȘđŁđą đŁđąđšđȘ đŹđąđźđ¶ đ¶đŻđ”đ¶đŹ đŁđąđŻđšđ¶đŻ đ„đąđłđȘ đ”đȘđ„đ¶đł...
đđąđłđȘ đŽđ¶đ„đąđ© đ«đąđ¶đ© đźđąđđąđź, đ”đŠđđąđ© đ©đąđźđ±đȘđł đŽđȘđąđŻđš.
đđŠđŁđąđŁ đȘđ”đ¶ đźđąđłđȘđđąđ© đŹđȘđ”đą đźđŠđŻđąđŻđšđšđąđđŹđąđŻ đ±đŠđłđŁđ¶đąđ”đąđŻ-đ±đŠđłđŁđ¶đąđ”đąđŻ đŹđŠđšđŠđđąđ±đąđŻ đ„đąđŻ đźđŠđŻđšđŠđŻđąđŹđąđŻ đ±đŠđłđđŠđŻđšđŹđąđ±đąđŻ đŽđŠđŻđ«đąđ”đą đ”đŠđłđąđŻđš!"
â đđ°đźđą 13:10â12
Perhatikan urutan yang Paulus pilih: ia memulai dengan kasih, baru kemudian berbicara tentang bangkit dan bergerak.
"đœđđŁđđȘđŁ đđđ§đ đ©đđđȘđ§ đ§đ€đđđŁđ đđȘđ đđŁ đšđđ đđđđ§ đąđđŁđđąđđđ đđđđ©đđ§ đđ©đȘđ§đđŁ đđđđąđ, đąđđĄđđđŁđ đđŁ đąđđąđđđđ§đ đđŁ đ đđšđđ đŒđĄđĄđđ đąđđŁđđđđšđđĄđ đđŁ đ đđđđđȘđ„đđŁ đźđđŁđ đ©đđđ© đđđŁ đ„đđŁđȘđ đ©đđ§đđŁđ."
Ini tentang membiarkan kasih TUHAN yang sejati
â kasih yang menyembuhkan,
mengalir begitu penuh di dalam hati kita sehingga tidak ada lagi ruang bagi kelesuan, ketakutan, dan pengalihan.
â â â
âš đ„đđđđđđŠđ
Sahabat, badai sedang mengamuk di luar.
Ombak kekacauan dunia ini nyata,
dan semakin hari semakin terasa.
Tapi di atas kapal yang sama dengan kita, ada Kapten yang tidak pernah panik, yang tidak pernah tertidur, yang suara-Nya lebih kuat dari angin yang paling kencang sekalipun.
Mari kita berhenti sejenak dan bertanya jujur kepada diri sendiri:
đđ±đąđŹđąđ© đąđ„đą đŁđąđšđȘđąđŻ đ„đąđłđȘ đ©đȘđ„đ¶đ± đŽđąđșđą đșđąđŻđš đŽđŠđ„đąđŻđš đŽđąđșđą "đ”đȘđ„đ¶đłđŹđąđŻ" đ„đąđłđȘ đ±đąđŻđšđšđȘđđąđŻ đđđđđ?
đđ¶đąđ”đąđŻ đąđ±đą đșđąđŻđš đŽđŠđ„đąđŻđš đŽđąđșđą đšđŠđŻđšđšđąđź đŁđŠđšđȘđ”đ¶ đŠđłđąđ” đ©đȘđŻđšđšđą đźđŠđźđŁđ¶đąđ” đŽđąđșđą đŠđŻđšđšđąđŻ đŁđŠđłđšđŠđłđąđŹ?
Ingat kisah Yunus.
Ketika ia akhirnya bersedia dilempar ke laut â ketika ia menyerahkan dirinya sepenuhnya â ikan besar itu bukan instrumen hukuman.
đđđ đźđ±đźđčđźđ” đžđČđ»đ±đźđżđźđźđ» đžđČđđČđčđźđșđźđđźđ».
Bahkan dalam kegelapan perut ikan paus itu, TUHAN ada: menunggu, menyertai, memulihkan.
Dan dari sana, Yunus akhirnya pergi ke Niniwe.
đ
"đđąđłđŠđŻđą đȘđ”đ¶, đŁđŠđłđ«đąđšđą-đ«đąđšđąđđąđ©, đŽđŠđŁđąđŁ đŹđąđźđ¶ đ”đȘđ„đąđŹ đ”đąđ©đ¶ đąđŹđąđŻ đ©đąđłđȘ đźđąđ¶đ±đ¶đŻ đąđŹđąđŻ đŽđąđąđ”đŻđșđą."
â đđąđ”đȘđ¶đŽ 25:13
Panggilan untuk berjaga-jaga ini bukan
undangan untuk hidup dalam kecemasan.
Ini adalah undangan untuk hidup dalam đžđČđđźđ±đźđżđźđ» đœđČđ»đđ”: menyadari bahwa kita dicintai, dipanggil, dan diutus.
Kita diundang untuk melepaskan muatan-muatan
yang membebani kapal kehidupan kita
â entah itu ambisi yang salah arah, kenyamanan yang membelenggu, atau ketakutan yang menghalangi langkah â
bukan karena TUHAN akan menghukum kita jika tidak melakukannya, tapi karena kita mulai mengenal Dia sebagai Pribadi yang layak dipercaya sepenuhnya.
đđźđœđđČđ» đžđ¶đđź đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđșđźđ»đŽđŽđ¶đč: "đđźđ»đŽđžđ¶đ! đđ»đ¶đčđźđ” đđźđźđđ»đđź!"
Bukan dengan cambuk ketakutan.
Melainkan dengan đđđźđżđź đđźđ»đŽ đđźđșđź đđźđ»đŽ đœđČđżđ»đźđ” đșđČđ»đČđ»đźđ»đŽđžđźđ» đ±đźđ»đźđ đđźđčđ¶đčđČđź â suara yang penuh otoritas, tapi lebih penuh lagi dengan kasih.
đđœđźđžđźđ” đžđ¶đđź đșđźđ đŻđźđ»đŽđžđ¶đ đ”đźđżđ¶ đ¶đ»đ¶?
â â â
đ đđąđ
Ya Bapa, terima kasih bahwa Engkau tidak pernah berhenti memanggil kami, bahkan ketika kami tertidur.
Tolong bangunkan hati kami â bukan dengan rasa takut, tapi dengan kasih-Mu yang sesungguhnya.
Jadikan kami peka terhadap panggilan-Mu, berani melepaskan beban yang tidak perlu, dan setia mengikut-Mu ke mana pun Engkau memimpin.
Di dalam nama Yesus, Kapten kami. Amin.
â â â
03/06/2026
đđšđđšđĄđđđĄ đŹđđĄđ đŠđđ đŁđšđ„đĄđ
đđđđđđđ 15:5
-------------------
đŁđČđżđ»đźđ”đžđźđ” đžđ¶đđź đșđČđżđźđđź đŻđźđ”đđź đžđČđ”đ¶đ±đđœđźđ» đżđŒđ”đźđ»đ¶ đźđ±đźđčđźđ” đđČđ»đđźđ»đŽ đŻđČđżđđđźđ”đź đčđČđŻđ¶đ” đžđČđżđźđ?
Bangun lebih pagi untuk berdoa,
membaca Alkitab lebih lama, berbuat lebih
banyak kebaikan
â seolah-olah buah rohani adalah hasil
dari kerja keras kita semata.
Banyak orang percaya hidup di bawah tekanan
tersembunyi seperti itu:
đșđČđżđźđđź đŻđČđżđđźđčđźđ” đžđČđđ¶đžđź đŽđźđŽđźđč,
đșđČđżđźđđź đ°đđžđđœ đčđźđđźđž đ”đźđ»đđź đžđČđđ¶đžđź đŻđČđżđ”đźđđ¶đč.
Namun Yesus đđ¶đ±đźđž đœđČđżđ»đźđ” mengundang kita
ke dalam persaingan kinerja rohani.
đđź đșđČđ»đŽđđ»đ±đźđ»đŽ đžđ¶đđź đžđČ đ±đźđčđźđș đđČđŻđđźđ” đ”đđŻđđ»đŽđźđ».
đŹđŒđ”đźđ»đČđ đđ±:đ± menulis dengan jelas: "đđŹđ¶đđąđ© đ±đ°đŹđ°đŹ đąđŻđšđšđ¶đł đ„đąđŻ đŹđąđźđ¶đđąđ© đłđąđŻđ”đȘđŻđš-đłđąđŻđ”đȘđŻđšđŻđșđą. đđąđłđąđŻđšđŽđȘđąđ±đą đ©đđŁđđđđĄ đđ đđđĄđđą đŒđ đȘ đ„đąđŻ đđŹđ¶ đ„đȘ đ„đąđđąđź đ„đȘđą, đđ đđđ§đđȘđđ đđđŁđźđđ , đŽđŠđŁđąđŁ đ„đȘ đđ¶đąđł đđŹđ¶ đŹđąđźđ¶ đ”đȘđ„đąđŹ đ„đąđ±đąđ” đŁđŠđłđŁđ¶đąđ” đąđ±đą-đąđ±đą."
Kata kunci di sini bukan "đŻđČđżđŻđđźđ"
â melainkan"đđ¶đ»đŽđŽđźđč."
đđđžđźđ» đžđ¶đ»đČđżđ·đź, melainkan đœđČđżđđČđžđđđđźđ».
đđđžđźđ» đ±đźđłđđźđż đœđČđ»đ°đźđœđźđ¶đźđ»,
melainkan đžđČđđČđżđ”đđŻđđ»đŽđźđ» đđźđ»đŽ đ”đ¶đ±đđœ.
"đđ¶đ»đŽđŽđźđč đ±đ¶ đ±đźđčđźđș đđżđ¶đđđđ" bukan sebuah beban rohani,
melainkan đđ»đ±đźđ»đŽđźđ» ke dalam kasih yang memulihkan.
------------------------------------
đđđšđŠđ§đ„đđŠđ
Mendaratkan pesawat tempur di atas kapal induk
adalah salah satu manuver paling hati-hati dalam dunia penerbangan.
Di landasan darat, seorang pilot militer memiliki
lebih dari 600 meter untuk bermanuver.
đđ¶ đźđđźđ đžđźđœđźđč đ¶đ»đ±đđž? đđźđ»đđź đđČđžđ¶đđźđż đ”đ đșđČđđČđż.
Dan kapal itu tidak diam â ia terus melaju,
naik-turun dihempas ombak, menjadi target yang
selalu berubah setiap detik.
Namun ada satu fakta yang paling mengejutkan: đœđ¶đčđŒđ đđ¶đ±đźđž đŻđ¶đđź đđČđœđČđ»đđ”đ»đđź đșđČđșđœđČđżđ°đźđđźđ¶ đ¶đ»đ±đżđź đșđČđżđČđžđź đđČđ»đ±đ¶đżđ¶.
Apa yang tampak seperti objek stabil bisa jadi
ilusi optis di tengah laut terbuka.
Karena itulah setiap pilot tempur yang mendarat
di kapal induk
đŻđČđżđŽđźđ»đđđ»đŽ pada sistem panduan eksternal sinyal dari kapal, komunikasi dengan menara kendali
đŻđđžđźđ» đđČđșđźđđź-đșđźđđź đœđźđ±đź đœđČđ»đ¶đčđźđ¶đźđ» đœđżđ¶đŻđźđ±đ¶.
Yesus menggambarkan hubungan kita
dengan-Nya menggunakan gambaran yang
jauh lebih organik:
đœđŒđžđŒđž đźđ»đŽđŽđđż đ±đźđ» đżđźđ»đđ¶đ»đŽ.
Gambaran ini bukan tentang mekanisme atau sistem sinyal.
Ini tentang kehidupan yang mengalir.
Ranting tidak "đđđ đđ§đđ đ đđ§đđš"
untuk menghasilkan buah.
Ranting tidak mengerahkan tekad ekstra
pada musim panen.
Yang dilakukan ranting hanya satu hal:
đ©đđ©đđ„ đąđđĄđđ đđ© đ„đđđ đ„đ€đ đ€đ .
Dari sanalah sari makanan mengalir.
Dari sanalah kehidupan datang.
Buah adalah hasil alami dari koneksi yang sehat
â bukan hasil dari upaya yang dipaksakan.
"đđŹđ¶đđąđ© đ±đ°đŹđ°đŹ đąđŻđšđšđ¶đł đșđąđŻđš đŁđŠđŻđąđł đ„đąđŻ đđąđ±đą-đđ¶đđąđ© đ±đŠđŻđšđ¶đŽđąđ©đąđŻđșđą." (đ đ°đ©đąđŻđŠđŽ đŁđ§:đŁ)
Perhatikan kata "đđđŁđđ§"di sana.
Dalam nubuatan Perjanjian Lama, Israel
sendiri sering disebut sebagai "đ„đ€đ đ€đ đđŁđđđȘđ§ đŒđĄđĄđđ"
namun pokok anggur itu gagal menghasilkan
buah yang diharapkan (đđđšđđźđ 5:1-7).
Kini Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pokok
anggur yang sejati & tidak akan mengecewakan.
Ia bukan sekadar sumber rohani alternatif
yang lebih baik.
đđź đźđ±đźđčđźđ” đđźđđ-đđźđđđ»đđź đŠđđșđŻđČđż đžđČđ”đ¶đ±đđœđźđ»
đđźđ»đŽ đșđČđșđźđ»đŽ đđ¶đ±đźđž đœđČđżđ»đźđ” đŻđČđżđđŻđźđ”.
đđ»đ¶đčđźđ” đ¶đ»đđ¶ đ±đźđżđ¶ đđżđČđźđ đđŒđ»đđżđŒđđČđżđđ
yang sering kita salah mengerti.
Pertanyaan terbesar dalam konflik kosmis itu bukan
"đŽđȘđąđ±đą đșđąđŻđš đ±đąđđȘđŻđš đŁđŠđłđŹđ¶đąđŽđą?" melainkan "đŽđȘđąđ±đąđŹđąđ© đșđąđŻđš đ„đąđ±đąđ” đ„đȘđ±đŠđłđ€đąđșđą?"
Setan menaburkan keraguan tentang
karakter Allah sejak di Taman Eden:
"đđŠđŻđąđłđŹđąđ© đđđđąđ© đŁđŠđłđŹđąđ”đą đ„đŠđźđȘđŹđȘđąđŻ?" (đđŠđ«đąđ„đȘđąđŻ đ„:đŁ).
Kebohongan itu masih beredar hari ini
dalam berbagai bentuk modern:
Allah menuntut terlalu banyak darimu.
Kasih-Nya bersyarat.
Kamu tidak pernah cukup baik untuk diterima-Nya.
Ketika Yesus berkata "đ©đđŁđđđđĄđĄđđ đđ đđđĄđđą đŒđ đȘ,"
Ia bukan sedang mengancam atau
mengkondisikan kasih-Nya.
Ia sedang mengungkapkan sebuah
đżđČđźđčđ¶đđźđ đżđŒđ”đźđ»đ¶ đđźđ»đŽ đŒđżđŽđźđ»đ¶đž:
ranting yang terputus dari pokok
đđ¶đ±đźđž đșđźđđ¶ đžđźđżđČđ»đź đ±đ¶đ”đđžđđș.
đđź đčđźđđ đžđźđżđČđ»đź đșđČđșđźđ»đŽ đđ¶đ±đźđž
đźđ±đź đžđČđ”đ¶đ±đđœđźđ» đ±đ¶ đčđđźđż đœđŒđžđŒđž đ¶đđ.
"đżđ đĄđȘđđ§ đŒđ đȘ đ đđąđȘ đ©đđđđ đđđ„đđ© đđđ§đđȘđđ© đđ„đ-đđ„đ"
bukan kalimat ancaman â ini adalah undangan
untuk jujur tentang kebutuhan kita yang sesungguhnya.
-----------------------------------
Kita hidup di dunia yang, seperti geladak
kapal induk, terus bergerak dan tidak
pernah benar-benar stabil.
Nilai-nilai berubah.
Kebenaran diserang dari segala arah.
Bahkan intuisi rohani kita â perasaan,
kebiasaan, tradisi yang kita warisi â
bisa menjadi tidak andal ketika đžđŒđ»đČđžđđ¶
dengan Sumber kebenaran itu melemah.
đđđŻđđ»đŽđźđ» đ±đČđ»đŽđźđ» đđżđ¶đđđđ
đŻđđžđźđ»đčđźđ” đœđČđ»đŽđźđčđźđșđźđ» đđČđđČđžđźđčđ¶,
melainkan harus menjadi keadaan jiwa
yang terus-menerus â seperti napas yang
tidak pernah berhenti,
bukan seperti kunjungan yang
hanya terjadi di hari Ibadah.
Inilah yang mengubah cara kita memandang
doa dan pembacaan Alkitab:
bukan ritual kewajiban yang harus
diselesaikan sebelum hari dimulai,
đșđČđčđźđ¶đ»đžđźđ» đșđŒđșđČđ» đđ»đđđž đđČđđźđœ đđČđżđ”đđŻđđ»đŽ
â seperti ranting yang membiarkan dirinya
dirembes oleh sari kehidupan dari sang pokok.
------------------------------
đ„đđĄđšđĄđđđĄ
Ada pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar
"đđ„đđ đđ đ đđąđȘ đšđȘđđđ đđđ§đđ€đ đđđ§đ đđŁđ?"
Pertanyaan itu adalah:
bagaimana kita sesungguhnya memandang Yesus?
Jika kita melihat-Nya terutama đđČđŻđźđŽđźđ¶ đđźđžđ¶đș
yang mencatat setiap kegagalan kita,
maka "đ©đđŁđđđđĄ đđ đđđĄđđą đżđđ" akan
terasa seperti hukuman bersyarat â
bertahan sedekat mungkin agar tidak dibuang.
Namun jika kita đșđČđ»đŽđČđ»đźđč-đĄđđź đđČđŻđźđŽđźđ¶ đŠđźđ”đźđŻđźđ
yang paling memahami,
sebagai Pokok yang dengan rela menjadi
sumber kehidupan kita,
maka"đ©đđŁđđđđĄ" bersamanya menjadi
sesuatu yang kita rindukan
----------------
đđČđżđșđźđđ¶ đźđđźđ đ¶đ»đ¶
"đđŠđ”đąđ±đȘ đŁđ¶đąđ© đđ°đ© đȘđąđđąđ©: đŹđąđŽđȘđ©, đŽđ¶đŹđąđ€đȘđ”đą, đ„đąđźđąđȘ đŽđŠđ«đąđ©đ”đŠđłđą, đŹđŠđŽđąđŁđąđłđąđŻ, đŹđŠđźđ¶đłđąđ©đąđŻ, đŹđŠđŁđąđȘđŹđąđŻ, đŹđŠđŽđŠđ”đȘđąđąđŻ, đŹđŠđđŠđźđąđ©đđŠđźđŁđ¶đ”đąđŻ, đ±đŠđŻđšđ¶đąđŽđąđąđŻ đ„đȘđłđȘ." (đđąđđąđ”đȘđą đ§:đ€đ€-đ€đ„)
Tidak satu pun dari buah-buah itu dapat kita
produksi sendiri dengan tekad yang cukup kuat.
đđČđđźđŻđźđżđźđ» đđźđ»đŽ đđČđ·đźđđ¶ đđ¶đ±đźđž đčđźđ”đ¶đż đ±đźđżđ¶ đčđźđđ¶đ”đźđ» đșđČđ»đźđ”đźđ» đ±đ¶đżđ¶; đ¶đź đđđșđŻđđ” đ±đźđżđ¶ đ·đ¶đđź đđźđ»đŽ đșđČđ»đČđżđ¶đșđź đžđČđčđ¶đșđœđźđ”đźđ» đžđźđđ¶đ” đđčđčđźđ”.
Damai sejahtera yang bertahan di tengah
badai tidak hadir karena kita berhasil mengelola
emosi dengan baik;
ia mengalir dari đżđźđđź đœđČđżđ°đźđđź kepada Allah
yang karakternya sudah terbukti layak dipercaya.
Buah-buah Roh adalah bukti kehidupan
yang mengalir dari koneksi yang sehat
dengan sang Pokok â bukan piala yang
kita raih dari latihan rohani yang cukup keras.
Maka undangan hari ini bukan
tentang berbuat lebih keras
atau lebih disiplin.
Undangan ini lebih sederhana dan lebih
dalam sekaligus: tetaplah dekat.
Ketika pikiran melayang,
kembalikan pada-Nya.
Ketika hati terasa kering, jujurlah dalam
doa tanpa berpura-pura baik-baik saja.
đđČđđ¶đžđź đ±đđ»đ¶đź đđČđżđźđđź đđČđœđČđżđđ¶ đŽđČđčđźđ±đźđž đžđźđœđźđč đđźđ»đŽ đđČđżđđ đŻđČđżđŽđđ»đ°đźđ»đŽ, đ¶đ»đŽđźđđčđźđ” đŻđźđ”đđź đźđ±đź đ đČđ»đźđżđź đđČđ»đ±đźđčđ¶ đđźđ»đŽ đđ¶đ±đźđž đœđČđżđ»đźđ” đđźđčđźđ” đșđČđșđŻđČđżđ¶ đđ¶đ»đđźđč.
Kita tidak perlu sempurna untuk tinggal di dalam-Nya.
Yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk
tetap melekat â dan Ia yang akan menjaga selebihnya.
Pokok anggur tidak pernah menolak rantingnya.
Ia hanya menunggu, dengan sabar dan penuh kasih, hingga ranting itu mau kembali melekat.
Tuhan Memberkati
24/05/2026
đŁđđ„đđŠđđđĄ đ©đŠ đđđ§đ | đđŠđ”đȘđŹđą "đđąđ”đȘ" đđ¶đŹđąđŻ đđŠđŹđąđ„đąđł đđŠđłđąđŽđąđąđŻ â
----------------------------------
Pernahkah kita mendengar seseorang berkata, "đđŹđ¶đ”đȘ đŽđąđ«đą đŹđąđ”đą đ©đąđ”đȘđźđ¶" â seolah đœđČđżđźđđźđźđ» đđźđ»đŽ đœđźđčđ¶đ»đŽ đ±đźđčđźđș đźđ±đźđčđźđ” đžđŒđșđœđźđ paling dapat dipercaya dalam hidup?
Kita tumbuh dalam budaya yang memisahkan
dunia dengan sangat rapi:
otak untuk berpikir, hati untuk merasakan.
Logika di kepala, emosi di dada.
Tapi bagaimana jika pemahaman itu justru membuat kita salah membaca Alkitab selama ini?
Gambar di atas menyentuh sebuah poin yang sering terlewatkan â bahkan oleh para pembaca Alkitab yang tekun.
Ketika Allah berfirman melalui Yeremia,
"đđŹđ¶ đąđŹđąđŻ đźđŠđŻđąđłđ¶đ© đ©đ¶đŹđ¶đź-đđ¶ đ„đąđđąđź đŁđąđ”đȘđŻ đźđŠđłđŠđŹđą đ„đąđŻ đźđŠđŻđ¶đđȘđŽđŹđąđŻđŻđșđą đ„đąđđąđź đ©đąđ”đȘ đźđŠđłđŠđŹđą" (Yeremia 31:33),
banyak dari kita langsung membayangkan pengalaman emosional yang hangat, mungkin seperti perasaan haru saat mendengar lagu rohani.
Padahal, yang Allah maksudkan jauh lebih dalam â dan jauh lebih rasional dari yang kita duga.
-------------------------------------
đđ»đźđđŒđșđ¶ đđźđ»đŽ đ§đČđżđŽđČđđČđż đđŽ đđ»đ°đ¶
Graham Maxwell pernah menyampaikan sebuah pengamatan yang mengubah cara kita membaca Alkitab. Ia berkata:
"đđȘđŹđą đŹđąđźđ¶ đȘđŻđšđȘđŻ đźđŠđŻđ€đ°đ€đ°đŹđŹđąđŻ đąđŻđąđ”đ°đźđȘ đđđŹđȘđ”đąđŁ đ„đŠđŻđšđąđŻ đąđŻđąđ”đ°đźđȘ đźđ°đ„đŠđłđŻ, đŹđąđźđ¶ đ©đąđłđ¶đŽ đźđŠđŻđšđšđŠđŽđŠđł đŽđŠđšđąđđąđŻđșđą đŹđŠ đąđ”đąđŽ đŽđŠđŹđȘđ”đąđł đŁđȘ đȘđŻđ€đȘ."
Maksudnya begini. Dalam pemahaman modern:
đđđđ€ = pusat logika dan pemikiran rasional
đđđđą = pusat emosi dan perasaan
Namun dalam pemahaman Alkitabiah yang asli:
đđźđđ¶ (âđđŠđ· / đđŠđŁâ dalam bahasa Ibrani) = pusat đœđČđșđ¶đžđ¶đżđźđ» đșđČđ»đ±đźđčđźđș, intelektualitas, dan pemahaman rasional
đđźđđ¶đ» / đšđđđ (meâeh / me'im dalam bahasa Ibrani) = pusat emosi terdalam dan empati (secara figuratif)
Karena bagi orang Ibrani kuno, emosi yang paling dalam dirasakan "đ±đ¶ đœđČđżđđ/đŻđźđđ¶đ»,â bukan terutama di âđ”đźđđ¶â seperti konsep modern.
-----------------------------------------------
ILUSTRASI
Maxwell menceritakan bagaimana sewaktu kecil, ia duduk di bangku gereja dan membaca ayat yang berbunyi:
"đđ©, đȘđŽđȘ đ±đŠđłđ¶đ”đŹđ¶! đđŹđ¶ đźđŠđłđąđŻđą đŽđąđźđ±đąđȘ đŹđŠ đȘđŽđȘ đ±đŠđłđ¶đ”đŹđ¶!" (đ đŠđłđŠđźđȘđą đŠ:đŁđ«).
Ia merasa bingung â mengapa seorang nabi
berbicara tentang organ pencernaan?
Ia ingin bertanya kepada ibunya, tapi tata tertib gereja tidak mengizinkan berbisik.
Bertahun-tahun kemudian ia baru memahami: đ¶đđ¶ đœđČđżđđ đ±đźđčđźđș đđčđžđ¶đđźđŻ đźđ±đźđčđźđ” đœđźđ±đźđ»đźđ» đ±đźđżđ¶ đźđœđź đđźđ»đŽ đžđ¶đđź đđČđŻđđ "đ”đźđđ¶" â yaitu đœđđđźđ đČđșđŒđđ¶, đžđČđœđČđ±đđčđ¶đźđ», đ±đźđ» đČđșđœđźđđ¶ đđźđ»đŽ đœđźđčđ¶đ»đŽ đ±đźđčđźđș.
Maka ketika kita membaca ungkapan "đ©đąđŻđ€đ¶đł đđ¶đđ¶đ© đŁđąđ”đȘđŻđŹđ¶",
itu bukan ekspresi puitis semata.
Itu adalah bahasa Alkitabiah untuk menggambarkan đžđČđœđČđ±đ¶đ”đźđ» đČđșđŒđđ¶đŒđ»đźđč đđźđ»đŽ đœđźđčđ¶đ»đŽ đ±đźđčđźđș â seperti yang kita rasakan di dada ketika mendengar berita duka.
"đđŹđ¶ đźđŠđŻđąđłđ¶đ© đ©đ¶đŹđ¶đź-đđ¶ đ„đąđđąđź đŁđąđ”đȘđŻ đźđŠđłđŠđŹđą đ„đąđŻ đźđŠđŻđ¶đđȘđŽđŹđąđŻđŻđșđą đ„đąđđąđź đ©đąđ”đȘ đźđŠđłđŠđŹđą; đđŹđ¶ đąđŹđąđŻ đźđŠđŻđ«đąđ„đȘ đđđđąđ© đźđŠđłđŠđŹđą đ„đąđŻ đźđŠđłđŠđŹđą đąđŹđąđŻ đźđŠđŻđ«đąđ„đȘ đ¶đźđąđ”-đđ¶." â đ đŠđłđŠđźđȘđą đ„đŁ:đ„đ„ (đđ)
-----------------------------------------
đđœđź đđżđđ¶đ»đđź "đđđžđđș đđ¶đđđčđ¶đ đ±đ¶ đđźđđ¶"?
Dengan memahami anatomi Alkitabiah ini, makna Yeremia 31:33 berubah secara dramatis.
Allah đđ¶đ±đźđž sedang berkata:
"đŒđ đȘ đđ đđŁ đąđđąđđȘđđ© đ đđąđȘ đąđđ§đđšđ đ§đ€đđđŁđ đšđđđđ§đ đđąđ€đšđđ€đŁđđĄ."
Allah đđČđ±đźđ»đŽ đșđČđ»đŽđźđđźđžđźđ»:
"đđŹđ¶ đąđŹđąđŻ đźđŠđźđŁđąđžđą đ©đ¶đŹđ¶đź-đđ¶ đąđđšđȘđ đ đ đđđĄđđą đ„đȘđšđđ© đ„đđąđđđđąđđŁđąđȘ â ke dalam đ°đźđżđź đŻđČđżđœđ¶đžđ¶đżđșđ yang paling dalam â sehingga kamu menaati-Ku bukan karena tekanan dari luar, melainkan karena kamu đșđČđ»đŽđČđżđđ¶ đ±đźđ» đđČđđđ·đ bahwa itu benar."
Maxwell menyebutnya đžđČđđźđźđđźđ» đ°đČđżđ±đźđ (đđŁđ©đđĄđĄđđđđŁđ© đ€đđđđđđŁđđ) â
đđČđđźđźđđźđ» đđźđ»đŽ đčđźđ”đ¶đż đ±đźđżđ¶ đœđ¶đžđ¶đżđźđ» đđźđ»đŽ đđČđčđźđ” đșđČđșđźđ”đźđșđ¶, đŻđđžđźđ» đ±đźđżđ¶ đČđșđŒđđ¶ đđźđ»đŽ đŻđČđżđŽđČđ·đŒđčđźđž đđČđđźđźđ.
-------------------------------
Ini Sangat penting!
đđ¶đžđź đžđ¶đđź đđźđčđźđ” đșđČđșđźđ”đźđșđ¶ đźđ»đźđđŒđșđ¶ đđčđžđ¶đđźđŻđ¶đźđ”,kita berisiko membangun seluruh kehidupan rohani kita di atas fondasi yang keliru: menganggap bahwa iman yang sejati adalah iman yang paling emosional,
Kita pikir, ibadah yang paling berhasil adalah yang paling đșđČđșđŻđđźđ đžđ¶đđź đșđČđ»đźđ»đŽđ¶đ, bahwa kerohanian yang dalam adalah kerohanian perasaan, bukan yang dipahami.
Dengan tegas Maxwell memperingatkan: "đđȘđŹđą đąđšđąđźđą đ©đąđŻđșđą đźđŠđŻđ«đąđ„đȘ đ±đŠđłđŹđąđłđą đ©đąđ”đȘ đ„đąđđąđź đ±đŠđŻđšđŠđłđ”đȘđąđŻ đźđ°đ„đŠđłđŻ â đ±đŠđłđŹđąđłđą đ±đŠđłđąđŽđąđąđŻ đŽđŠđźđąđ”đą â đźđąđŹđą đŽđŠđŽđŠđ°đłđąđŻđš đŁđȘđŽđą đ„đȘđŁđąđžđą đŹđŠ đđ¶đșđąđŻđą đŁđŠđłđŽđąđźđą đđȘđź đđ°đŻđŠđŽ."
đŠđČđžđČđ±đźđż đ¶đ»đłđŒ!
----------------------------------------
đđ¶đș đđŒđ»đČđ adalah seorang đœđČđ»đ±đČđđź đžđźđżđ¶đđșđźđđ¶đž yang memimpin sebuah gereja bernama Peoples Temple. Ia sangat pandai berkhotbah, suaranya memukau, gaya ibadahnya penuh semangat dan emosi.
Ribuan orang mengikutinya dengan setia â percaya bahwa ia adalah utusan Allah.
Pada akhirnya, ia memerintahkan seluruh jemaatnya â lebih dari 900 orang â untuk meminum racun sianida. Dan mereka melakukannya.
--------------------------------------
đ§đźđ»đœđź đșđČđčđ¶đŻđźđđžđźđ» đœđČđșđ¶đžđ¶đżđźđ», "đźđŽđźđșđź đœđČđżđźđđźđźđ»" đŻđ¶đđź đșđČđ»đ·đźđ±đ¶ đźđčđźđ đșđźđ»đ¶đœđđčđźđđ¶ đđźđ»đŽ đŻđČđżđŻđźđ”đźđđź.
------------------------------------------------
đđčđźđđźđ» đđčđčđźđ” đ đČđ»đŽđ¶đ»đŽđ¶đ»đžđźđ» đđ¶đđź đđČđżđœđ¶đžđ¶đż
Perhatikan bahwa Allah đđ¶đ±đźđž berkata: "đŒđ đȘ đđ đđŁ đąđđąđđȘđđ© đ đđąđȘ đąđđ§đđšđđ đđŁđŁđźđ."
Ia berkata: "đŒđ đȘ đđ đđŁ đąđđŁđȘđĄđđšđ đđŁđŁđźđ."
Menulis adalah tindakan yang memerlukan pemahaman, persetujuan, dan penerimaan dengan sadar.
Allah menghormati kita sebagai makhluk rasional yang diciptakan menurut gambar-Nya. Iđź đđ¶đ±đźđž đ¶đ»đŽđ¶đ» đžđ¶đđź đđźđźđ đ±đźđčđźđș đžđČđźđ±đźđźđ» đđČđżđ”đźđ»đđđ đČđșđŒđđ¶, lalu keesokan harinya kembali ke kebiasaan lama ketika perasaan itu memudar.
Ia menginginkan transformasi đœđźđ±đź đđ¶đ»đŽđžđźđ đœđČđșđźđ”đźđșđźđ» â perubahan
cara kita melihat diri-Nya,
cara kita melihat hukum-Nya,
cara kita melihat hubungan kita dengan-Nya.
"đđŠđ”đąđ±đȘ đŁđȘđąđłđđąđ© đ°đłđąđŻđš đșđąđŻđš đźđąđ¶ đŁđŠđłđźđŠđšđąđ© đŁđŠđłđźđŠđšđąđ© đŹđąđłđŠđŻđą đșđąđŻđš đŁđŠđłđȘđŹđ¶đ”: đŁđąđ©đžđą đȘđą đźđŠđźđąđ©đąđźđȘ đ„đąđŻ đźđŠđŻđšđŠđŻđąđ đđŹđ¶, đŁđąđ©đžđą đđŹđ¶đđąđ© đđđđđ đșđąđŻđš đźđŠđŻđ¶đŻđ«đ¶đŹđŹđąđŻ đŹđąđŽđȘđ© đŽđŠđ”đȘđą, đŹđŠđąđ„đȘđđąđŻ đ„đąđŻ đŹđŠđŁđŠđŻđąđłđąđŻ đ„đȘ đŁđ¶đźđȘ." â đ đŠđłđŠđźđȘđą đ«:đ€đŠ (đđ)
---------------------------------------
đ„đđđđđđŠđ
đđșđźđ» đđźđ»đŽ đđČđżđœđ¶đžđ¶đż,
Bukan Iman yang Terbawa Arus
Gambar ini menantang kita untuk mengajukan pertanyaan yang jujur kepada diri sendiri: Apakah kerohanian saya selama ini bertumpu
pada pemahaman yang mendalam, atau pada gelombang emosi yang datang dan pergi?
Bukan berarti emosi tidak penting â Allah menciptakan kita dengan perasaan yang kaya. Ketika Yeremia berkata
"đ©đąđŻđ€đ¶đł đđ¶đđ¶đ© đŁđąđ”đȘđŻđŹđ¶",
itu adalah ungkapan emosi yang nyata dan sah.
Tapi emosi dalam Alkitab selalu đșđČđ»đ·đźđ±đ¶ đżđČđđœđŒđ»đ đđČđżđ”đźđ±đźđœ đœđČđșđźđ”đźđșđźđ» â đŻđđžđźđ» đœđČđ»đŽđŽđźđ»đđ¶ đœđČđșđźđ”đźđșđźđ».
-------------------------
Kita diundang untuk mengenal Allah dengan cara yang paling utuh: dengan đœđ¶đžđ¶đżđźđ» đđźđ»đŽ đđČđżđčđ¶đŻđźđ đœđČđ»đđ” (đ”đźđđ¶ đ±đźđčđźđș đœđČđ»đŽđČđżđđ¶đźđ» đđčđžđ¶đđźđŻđ¶đźđ”), đ±đźđ» đ±đČđ»đŽđźđ» đČđșđŒđđ¶ đđźđ»đŽ đșđČđżđČđđœđŒđ»đ đđČđ°đźđżđź đ·đđ·đđż (đŻđźđđ¶đ» đ±đźđčđźđș đœđČđ»đŽđČđżđđ¶đźđ» đđčđžđ¶đđźđŻđ¶đźđ”).
Keduanya bekerja bersama â bukan saling menggantikan.
Maxwell merangkumnya dengan indah:
Allah menginginkan kita menjadi sahabat-Nya yang berpikir â bukan sekadar pengikut yang terbawa arus.
đŠđČđŻđźđŻ đ”đźđ»đđź đđźđ”đźđŻđźđ đđźđ»đŽ đŻđČđ»đźđż-đŻđČđ»đźđż đșđČđ»đŽđČđ»đźđč-đĄđđź đđźđ»đŽ đ±đźđœđźđ đ±đ¶đœđČđżđ°đźđđź đđ»đđđž đ”đ¶đ±đđœ đ±đźđčđźđș đžđČđżđźđ·đźđźđ»-đĄđđź đđČđčđźđșđź-đčđźđșđźđ»đđź.
[KUTIPAN AYAT]
"đđąđŽđȘđ©đȘđđąđ© đđ¶đ©đąđŻ, đđđđąđ©đźđ¶, đ„đŠđŻđšđąđŻ đŽđŠđšđŠđŻđąđ± đ©đąđ”đȘđźđ¶ đ„đąđŻ đ„đŠđŻđšđąđŻ đŽđŠđšđŠđŻđąđ± đ«đȘđžđąđźđ¶ đ„đąđŻ đ„đŠđŻđšđąđŻ đŽđŠđšđŠđŻđąđ± đąđŹđąđ đŁđ¶đ„đȘđźđ¶." â đđąđ”đȘđ¶đŽ đ€đ€:đ„đ© (đđ)
Perhatikan: akal budi disebut bersama hati dan jiwa.
Allah tidak pernah meminta kita meninggalkan
pikiran kita di pintu gereja.
Ia meminta seluruh diri kita â termasuk kemampuan terbaik kita untuk berpikir, menimbang, dan memahami siapa Dia sesungguhnya.
Sebab semakin kita mengenal-Nya dengan pikiran yang jernih, semakin kita akan menemukan bahwa Ia layak untuk dicintai, bukan sekadar layak untuk ditakuti.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Bekasi
Jakarta
121960