TBM Anak Negeri Papua

TBM Anak Negeri Papua

Share

Taman Baca Anak Negeri Papua hadir sebagai apresiasi masyarakat terhadap pentingnya kegiatan membaca Program TBM dimulai sejak 1992/1993.

Berdasarkan UU RI NO. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat (4), disebutkan bahwa satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis.

16/06/2026

The Mountains We Call Home bukanlah pengulangan cerita yang lama. Ini adalah kelanjutan kisah yang layak dibaca. Kim Michele Richardson berhasil melakukan hal yang sulit: ia membawa Cussy Mary Lovett (sebelumnya bernama Carter) meninggalkan perbukitan yang dikenalnya dan membawanya ke lingkungan yang sama sekali baru, baik secara harfiah maupun dari sisi tema ceritanya. Hasilnya adalah sebuah novel yang mampu berdiri sendiri sekaligus tetap menghormati seluruh kisah yang telah ada sebelumnya.

Kisah ini berlangsung pada pertengahan tahun 1950-an. Cussy Mary, tokoh utama kita yang berkulit biru, tidak lagi bekerja sebagai pustakawan keliling. Ia kini telah menjadi istri dan ibu, namun masih dihantui oleh program eugenika yang berusaha menghapus keberadaannya. Ketika ia dipenjara secara tidak adil—saya tidak akan membocorkan detail kejadiannya, namun situasinya sangat memilukan dan terasa sangat nyata—ia mendapati dirinya terkurung di penjara wanita di Louisville. Jauh dari Troublesome Creek. Jauh dari keluarganya. Jauh dari segala hal yang dikenalnya.

Namun Cussy Mary bukanlah tipe orang yang akan diam saja. Ia mengetahui bahwa penjara tersebut tidak memiliki perpustakaan sama sekali. Tidak ada buku. Tidak ada harapan. Maka ia mulai berjuang, bukan hanya demi kebebasannya sendiri, tetapi juga demi para wanita di sekitarnya. Ia pun menjadi pustakawan di penjara tersebut. Ia membawa buku-buku bagi para wanita yang telah dilupakan oleh dunia. Dan ia menyadari bahwa kemampuan membaca dan menulis bukan sekadar kemewahan. Di tempat yang dirancang untuk merenggut martabat seseorang, sebuah buku bisa menjadi pernyataan: Saya masih seorang manusia. Keberadaan saya tetap berarti.

Bagian kedua novel ini menceritakan kehidupan Cussy Mary setelah ia dibebaskan. Ia melanjutkan misinya di lingkungan pinggiran kota Louisville yang terabaikan, kawasan yang ditetapkan untuk mengikuti program "pembaruan kota"—sebuah istilah halus yang sebenarnya berarti penggusuran paksa. Ia pun menghadapi tantangan baru: para birokrat yang memandang rakyat miskin sebagai masalah yang harus diselesaikan, para pengembang yang memandang tanah sebagai ladang keuntungan, serta prasangka yang tak kunjung hilang terhadap warna kulitnya yang biru.

Kelebihan utama karya Richardson adalah bagaimana ia mampu memperluas cakupan kisah tanpa kehilangan inti dan maknanya. The Book Woman of Troublesome Creek berfokus pada kemiskinan pedesaan dan ketabahan masyarakat Pegunungan Appalachia. Sedangkan The Mountains We Call Home mengangkat tema pemenjaraan, penggusuran perkotaan, serta kekejaman sistemik dalam masyarakat yang memenjarakan orang miskin dan meratakan tempat tinggal mereka. Secara keseluruhan, novel ini terasa lebih kelam, lebih menyentuh kenyataan pahit, dan penuh amarah. Namun di sisi lain, kisah ini juga menyisakan secercah harapan.

Cussy Mary tetap menjadi tokoh yang mengagumkan. Ia kini bertambah usia, lebih bijaksana, namun juga lebih lelah. Namun ia tidak kehilangan sifat welas asihnya yang teguh. Ia menjalin persahabatan dengan para narapidana yang dicap sebagai "orang jahat" oleh masyarakat. Ia mampu melihat sisi kemanusiaan mereka saat orang lain tidak mau melakukannya. Dan ia menolak untuk percaya bahwa seseorang tidak memiliki kesempatan untuk berubah.

Tokoh-tokoh baru dalam cerita ini juga digambarkan dengan jelas dan berkesan. Ada sesama narapidana yang menyimpan rahasia masa lalu, seorang petugas penjara yang ternyata memiliki hati yang baik, serta seorang penggerak masyarakat yang mengajari Cussy Mary tentang kekuatan bersatu. Tak lupa p**a keluarganya—suami dan putrinya—yang menjadi penopang semangatnya saat ia merasa goyah.
5 Pelajaran Berharga dari The Mountains We Call Home:

1. Penjara tidak dirancang untuk memperbaiki perilaku, melainkan untuk menghukum.
Penggambaran Richardson tentang penjara wanita di Kentucky sangat jujur dan apa adanya. Kondisi di sana sangat memprihatinkan. Para petugas bersikap acuh tak acuh. Sistem tersebut seolah-olah sengaja dibuat untuk menghancurkan, bukan untuk membina. Perjuangan Cussy Mary untuk mendatangkan buku ke tempat itu bukan sekadar hal yang mulia, melainkan sebuah perlawanan yang berani. Jika kita benar-benar percaya bahwa setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik, maka kita harus percaya bahwa hal itu berlaku bagi siapa saja. Bahkan bagi para narapidana. Terutama bagi mereka.

2. Istilah "pembaruan kota" sering kali hanyalah kedok untuk perusakan.
Bagian kedua novel ini mengangkat kisah kawasan Louisville yang ditetapkan untuk "pembaruan"—sebuah kebijakan yang menggusur ribuan keluarga miskin dan kulit hitam dengan dalih kemajuan. Richardson memperlihatkan dampak nyata dari kebijakan tersebut: rumah diratakan, komunitas tercerai-berai, dan kehidupan orang-orang hancur. Jadilah orang yang kritis ketika penguasa menjanjikan perbaikan bagi kawasan kumuh. Tanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan, dan siapa yang harus menanggung kerugiannya.

3. Meski hancur oleh sistem, seseorang tetap bisa berjuang melawannya.
Cussy Mary bukanlah tokoh yang sempurna dan kebal masalah. Ia merasa lelah, trauma, dan sempat putus asa hingga merasa tidak sanggup melanjutkan hidup. Namun ia terus berjuang—bukan karena ia terlahir kuat, melainkan karena perjuangan itu layak untuk diperjuangkan. Seseorang tidak harus berada dalam kondisi sempurna agar bisa memberikan dampak positif. Yang terpenting adalah tetap berusaha dan tidak menyerah.

4. Kemampuan membaca dan menulis adalah bentuk kebebasan.
Di dalam penjara, sebuah buku menjadi jendela dunia. Sarana pelarian. Pengingat akan kehidupan di luar tembok penjara. Cussy Mary menyaksikan bagaimana para narapidana berubah saat diberikan buku untuk dibaca—ketegangan di wajah mereka mereda, mata mereka kembali bersinar, dan mereka teringat bahwa mereka tetaplah manusia. Jangan pernah menganggap remeh akses terhadap buku. Bagi sebagian orang, sebuah buku saja sudah bisa menjadi penyelamat hidup.

5. Warisan bukanlah tentang monumen, melainkan tentang dampak yang diberikan pada orang lain.
Nama Cussy Mary mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah. Ia tidak akan diabadikan dalam patung. Namun ia mampu mengubah hidup banyak orang—satu per satu, mulai dari narapidana, anak-anak yang terabaikan, hingga tetangga yang dilupakan. Menurut Richardson, inilah warisan yang paling berharga. Jangan sibuk berusaha menjadi terkenal. Berusahalah untuk selalu berbuat baik. Orang-orang yang telah kau bantu akan tetap mengingatmu. Itu sudah lebih dari cukup.

The Mountains We Call Home mungkin tidak sepadat dan sekuat The Book Woman of Troublesome Creek. Novel ini mencoba mengangkat banyak hal sekaligus, dan terkadang terasa agak berat. Namun karya ini tetaplah sebuah kisah yang mendalam, menyentuh hati, dan sangat berharga. Cussy Mary Lovett memang layak untuk diceritakan kelanjutan kisahnya. Dan Kim Michele Richardson adalah penulis yang tepat untuk melakukannya.

Bacalah buku ini untuk memahami sejarahnya. Bacalah untuk merasakan kedalaman kisahnya. Bacalah karena Cussy Mary masih memiliki banyak hal untuk diajarkan—tentang keberanian, tentang arti sebuah buku, dan tentang keteguhan hati untuk tidak pernah menyerah pada orang-orang yang telah dibuang oleh masyarakat.

Photos from Forum TBM's post 16/06/2026
16/06/2026
02/05/2026

https://www.facebook.com/share/p/1EB9epkGkE/?mibextid=wwXIfr

Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Momentum ini mengingatkan kita untuk terus memperkuat komitmen dalam membangun SDM Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing melalui pendidikan dan literasi. Di era yang terus bergerak cepat, literasi menjadi kunci agar kita mampu memahami, memilah, dan memanfaatkan informasi dengan bijak.
mari dukung pembelajaran sepanjang hayat dengan akses pengetahuan yang inklusif dan terus tumbuhkan budaya baca demi kemajuan bangsa.

Photos from BiblioCave's post 07/03/2026
Want your organization to be the top-listed Non Profit Organization in Sentani?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


Sentani
99352

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TBM Anak Negeri Papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Subscribe

We will notify you when anything happens in Sentani.